BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Langkah Blunder Aris Budiman

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian bisa jadi kini tengah gamang. Kerja cepat yang diminta Presiden Jokowi agar menuntaskan kasus penganiayaan

Langkah Blunder Aris Budiman
BPost Cetak
Ilustrasi 

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian bisa jadi kini tengah gamang. Kerja cepat yang diminta Presiden Jokowi agar menuntaskan kasus penganiayaan terhadap Novel Baswedan, penyidik senior KPK, belum juga menemukan hasil.

Di tengah ketidakjelasan kasus itu, Polda Metro Jaya, justru menetapkan Novel sebagai tersangka.Yang menarik, polisi hanya perlu waktu sepekan menetapkan Novel sebagai tersangka atas laporan rekannya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Brigjen Pol Aris Budiman.

Novel dilaporkan Direktur Penyidikan KPK itu atas tuduhan melakukan pencemaran nama baik.
Aris merasa terusik oleh komentar Novel yang menyebutnya tidak memiliki integritas. Tidak hanya Aris, rekannya seorang perwira menengah di Bareskrim Polri juga melaporkan Novel karena menyebut para penyidik dari Bareskrim tidak memiliki integritas.

Kabarnya, laporan kedua perwira menengah itu sudah ditangani Polda Metro Jaya. Bisa jadi, Novel yang juga mantan anggota Polri dengan pangkat terakhir Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu bakal menyandang status tersangka lagi.

Akankah Novel masuk bui? Kalau itu memang terjadi, jelas ini kelucuan dari sebuah fragmen kepolisian. Bagaimanapun publik tahu kasus penganiayaan terhadap Novel sudah lima bulan belum juga terungkap. Jika kemudian Novel masuk bui atas laporan dua perwira polisi di atas, publik pasti bakal menilai adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum oleh kepolisian.

Kabarnya, Aris Budiman dan Novel memang tidak akur bekerja dalam satu tim (penyidikan). Aris mengaku Novel kerap mementahkan setiap kebijakannya yang dinilai merugikan lembaga antirasuah tersebut. Sebagai direktur, Aris juga menilai Novel memiliki power lebih di KPK.

Terlepas apa pun alasannya, seharusnya ketidakakuran keduanya tidak kemudian menjadi sebuah konflik terbuka. Apalagi Aris sengaja membuka ‘aib’ kinerja KPK di depan Pansus Hak Angket KPK –yang memang sengaja mau mencari tahu ketidakberesan-ketidakberesan yang ada pada lembaga antirasuah tersebut.

Publik bisa memaklumi Aris hadir untuk mengklarifikasi atas tudingan dirinya telah menerima uang dan bertemu pihak-pihak yang tengah berperkara dengan KPK.

Namun, cara selonong boy sang jenderal tanpa izin dari pimpinan itu jelas tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Yang jelas, publik menilai apa-apa yang disampaikan Aris kepada pansus hak angket adalah sebuah kecerobohan, bahkan kekonyolan. Selama ini, Pansus Hak Angket berusaha meredam agresivitas KPK, khususnya menyangkut para wakil rakyat di Senayan yang terendus KPK membancaki dana proyek KTP El.

Nah, ‘kesalahan langkah’ Aris itu, bisa menjadi senjata ampuh bagi pansus hak angket untuk semakin memojokkan KPK. Dan, terbukti, kabar terbaru ada politisi di Senayan dan selalu mengaku terhormat dan refresentasi dari rakyat, mengancam bakal membekukan KPK. Artinya, di sini, apa-apa yang diumbarkan oleh Aris di depan para anggota pansus, jelas bukan sebuah kebaikan bagi pemberantasan korupsi di negeri ini, tapi sebuah isyarat kehancuran. Dengan kata lain, suka tidak suka, secara tidak langsung Aris ikut andil bersama-sama mereka yang di Senayan ingin meruntuhkan KPK. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help