BanjarmasinPost/

Merindukan Surga

Kurang lebih sebelas tahun sebelumnya, yakni 1971, John Lennon, merilis lagu Imagine (bayangkan) yang terkenal itu.

Merindukan Surga
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai. Bingung-bingung ku memikirnya.” Itulah salah satu bait lagu Perdamaian yang dinyanyikan Orkes Gambus Nasyida Ria yang hit pada 1982. Kala itu, saya baru kelas empat sekolah dasar (SD), tetapi saya dapat merasakan kesesuaian lagu itu dengan politik yang panas di Amuntai antara partai pemerintah, Golkar, dan PPP, yang didukung NU.

Kurang lebih sebelas tahun sebelumnya, yakni 1971, John Lennon, merilis lagu Imagine (bayangkan) yang terkenal itu. Pesan yang ingin disampaikan Lennon juga perdamaian. “Imagine all the people living life in peace” (bayangkan semua orang hidup dalam damai). Tak ada surga, tak ada neraka, tak ada agama, tak ada hak milik, semua manusia hidup bersaudara dan berbagi dengan suka rela.

Tetapi, seperti lagu Nasyida Ria, Lennon sadar akan paradoks hidup manusia. Karena itu dia membela diri: “You may say I am a dreamer, but I am not the only one. I hope some day you’ll join us. And the world will live as one” (Kau mungkin berkata, aku seorang pemimpi, tetapi aku bukanlah satu-satunya. Ku berharap satu hari kamu akan bergabung dengan kami. Dan dunia akan bersatu).

Setelah perang dunia kedua, awal 1970-an masih era perang dingin. Kata mantra yang populer kala itu adalah ‘modernisasi’ atau ‘pembangunan’ yang seringkali disejajarkan dengan sekularisasi dalam arti bahwa agama dianggap tidak penting lagi. Inilah kiranya maksud bait Lennon “And no religion too” (dan tak ada agama juga). Bait ini tidak (belum) berbicara tentang terorisme atas nama agama.

Ketika perang dingin bubar, dunia bukannya tambah damai. Dalam sebuah artikel yang terbit pada 1993, Samuel Huntington mengatakan, dunia akan mengalami tabrakan antarperadaban (clash of civilizations). Entah ini suatu kebetulan atau ramalan yang diharapkan, dunia memang terus dilanda perang. Perang terjadi di Palestina-Israel, Afghanistan, Iran, Irak, Yaman, Suriah dan lain-lain.

Kasus Rohingya di Myanmar saat ini menambah deretan kekejaman manusia atas manusia lainnya. Ini bukan perang, tetapi penindasan si kuat terhadap si lemah. Tetapi intinya sama: alih-alih hidup damai bersaudara, manusia justru menyalakan api permusuhan dan kebencian pada sesama. Lebih menyedihkan lagi, baik di Timur Tengah atau di Myanmar, tindak kekerasan itu berbaju agama.

Dunia memang bukan surga, tempat kedamaian abadi. Kalau meminjam pandangan Budha, dunia memang bukan nirwana, ketika manusia terbebas dari ikatan keberadaan hidup-mati dan lenyap dalam kemutlakan. Dunia adalah ladang pertempuran antara kebaikan dan keburukan. Dunia adalah ujian moral bagi manusia yang diberi kebebasan memilih antara yang baik dan yang buruk.

Perjuangan moral itu jelas tidak mudah. Baik kisah Qabil dan Habil atau Kurawa dan Pandawa dalam Mahabarata, sebenarnya tidak hanya menggambarkan tentang orang jahat melawan orang baik, tetapi juga tentang nafsu melawan akal di dalam diri tiap pribadi. Untuk bisa mengalahkan kejahatan di luar diri, manusia harus terlebih dahulu menaklukkan nafsu angkara di dalam dirinya sendiri.

Dalam setiap zaman, selalu ada pertarungan antara orang-orang yang menginginkan kesejahteraan umum dan orang-orang egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Dengan kebebasan terbatas yang dimilikinya, dua sifat manusia itu akan bertarung merebutkan arah perubahan dunia, menuju keadilan atau kezaliman. Tiap orang dengan caranya masing-masing terlibat dalam pertarungan itu.

Jika kita melihat sejarah, jelaslah harapan John Lennon adalah mimpi belaka. Dunia bukanlah surga. Tetapi selalu ada orang-orang yang merindukan surga, lalu berjuang menegakkan keadilan dan menentang kezaliman. Di sisi lain, ada orang-orang yang mengimpikan surga palsu, yang ditawarkan Dajjal, yang tak lain adalah neraka itu sendiri. Inilah pergumulan moral abadi umat manusia.

Bagi orang-orang baik, dalam pergumulan moral itu, yang penting bukanlah seberapa besar hasil yang didapat tetapi seberapa gigih perjuangan yang dikerahkan. Mereka merindukan surga dan berupaya mewujudkannya. Itu sudah lebih dari cukup! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help