BanjarmasinPost/

Berita Regional

Waduh, Saat Bayi Debora Meninggal karena Ortu Tak Punya Uang, Perawat Sempat Katakan Hal Ini

Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang kemudian memilih pulang dengan membawa jenazah bayi mereka Debora dengan sepeda motor dari RS Mitra Keluarga.

Waduh, Saat Bayi Debora Meninggal karena Ortu Tak Punya Uang, Perawat Sempat Katakan Hal Ini
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Senin (11/9/2017) 

BANJAMARMASINPOST.CO.ID- Rumah sakit tidak lagi dibenarkan meminta bayaran uang muka atau down payment (DP) kepada pasien yang kondisinya sudah gawat darurat.

Gara-gara soal DP ini, Tiara Debora, anak dari pasangan Henny Silalahi dan Rudianto,meninggal dunia setelah tidak menerima penanganan medis karena uang muka perawatan dari orangtua tidak mencukupi di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (10/9).

Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang kemudian memilih pulang dengan membawa jenazah bayi mereka Debora dengan sepeda motor dari RS Mitra Keluarga Kalideres. Mereka tidak ingin lagi berurusan dengan rumah sakit tersebut.

“Ketika suster datang buka OTG-nya dia dengan sombongnya bilang ini bagaimana jenazahnya? Prosedur jenazah harus pakai ambulans, minimal mobil tertutup,” kata Henny.

Henny yang masih kalut meratapi putrinya itu hanya diam ketika ditanya suster. Sahabat Henny yang mendampinginya saat itu menyampaikan kekesalannya kepada sang suster.

“Sahabat saya bilang, ‘Enggak usah ngomongin prosedur! Kalau prosedur mestinya nyawa anak ini diduluin daripada duit’,” ucap Henny.

Menurut dia, pihak rumah sakit sempat bersikeras agar jenazah bayi Debora dibawa dengan ambulans. Namun, Henny bersikeras membawa pulang jenazah bayinya de­ngan sepeda motor.

Dia pun meminta suster segera melepas peralatan medis dari tubuh anaknya. Rudianto, sang ayah, sibuk melunasi biaya perawatan sekitar Rp 6 juta yang disodorkan pihak rumah sakit agar surat kematian dikeluarkan. Masih mengenakan baju tidur dan tanpa alas kaki, Henny serta Rudianto membawa jenazah Debora ke rumah mereka untuk dimakamkan.

Henny ingat, ketika mereka akan pergi, seorang suster sempat menghampiri mereka dan mengatakan bahwa selimut yang membungkus tubuh bayi itu tak bisa dibawa pergi. Dengan kesal, Henny melempar selimut itu dan tancap gas membawa Debora pulang.

“Di jalan saya masih berharap Debora tiba-tiba bangun, bahkan sampai di peti mati saya tunggu, tapi ternyata enggak ada tanda-tanda. Bayi saya mati hanya karena urusan Rp 6 juta yang enggak bisa dibayar saat itu juga,” ujarnya.

Henny mengungkapkan rasa penyesalan mereka mempercayakan nyawa Debora kepada pihak RS Mitra Keluarga Kalideres. “Anak saya itu memang lahir prematur, ada masalah sama jantungnya. Sudah berobat dan perlahan-lahan keadaanya membaik,” ujar Henny.

Henny Silalahi dan suaminya, Rudianto Simanjorang, tidak akan menggugat pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres terkait meninggalnya bayi mereka, Debora, di rumah sakit tersebut. “Saya cuma berharap kejadian seperti ini enggak terulang sama anak-anak lain,” ucap Henny. (dik/ajg/hid/wly)

Baca Lebih Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Senin (11/9/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help