BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Lebih Perhatikan Jamhaj Risiko Tinggi

Empat orang wafat di Jeddah, 287 jemaah meninggal di Makkah, 37 orang wafat di Madinah, 20 jemaah meninggal di Arafah, dan 67 jemaah meninggal

Lebih Perhatikan Jamhaj Risiko Tinggi
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

SELASA, 12 September 2017, sebelumnya Sabtu (9/9) dan beberapa pekan ke depan, jemaah haji asal Kalimantan Selatan berangsur-angsur kembali ke kampung halaman. Mereka telah selesai melakukan perjalanan ibadah di Tanah Suci, Makkah dan Madinah sebagai tamu Allah.

Pemulangan yang sudah terjadwal secara nasional ini, tidak semua bisa kembali ke Tanah Air. Ada di antara jemaah yang hanya seorang diri, apakah suami atau istri atau orangtua mereka yang wafat, setelah atau sebelum melaksanakan rangkaian manasik.

Berdasarkan laporan Website Kemenag RI, jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi terus bertambah. Sampai 11 September 2017, data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Daker Makkah mencatat ada 415 jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi.

Empat orang wafat di Jeddah, 287 jemaah meninggal di Makkah, 37 orang wafat di Madinah, 20 jemaah meninggal di Arafah, dan 67 jemaah meninggal di Mina.

Jika menoleh musim haji sebelumnya, total angka kematian ini lebih banyak jika dibandingkan 2016 yang berjumlah 342 jemaah. Namun demikian, kuota jemaah haji Indonesia pada 2016 hanya 166.800 orang.

Meninggalnya jemaah haji Indonesia ini disebabkan banyak faktor, di antaranya penyakit bawaan sejak di Tanah Air atau faktor kelelahan setelah menunaikan ibadah Armina (Arafah-Mina), yaitu puncak ibadah wukuf di Arafah dan melontar jumrah di Mina.

Ini perlu koordinasi optimal antara dokter kelompok terbang dengan tim medis, Tim Petugas Haji Indonesia (TPHI), Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).

Terhadap data ini, tampaknya para pemangku kepentingan perlu mencermati dan segera mengambil langkah cepat, agar angka kematian jemaah haji tak berlanjut, terutama pascawukuf (jadwal pemulangan) seperti sekarang atau jemaah yang menuju Madinah (gelombang kedua).

Sementara, jemaah haji risiko tinggi (risti) perlu mendapat pemantauan dan perhatian khusus. Jika para pemangku kepentingan seperti dokter, tim medis, TPHI, TPIHI dan TKHI serta petugas lainnya berkoordinasi secara intens, akan dapat diminimalisasi.

Koordinasi dengan TPHI/TPIHI juga penting, misalnya jemaah haji yang kelelahan setelah melaksanakan ibadah Armina atau karena faktor usia lanjut, agar tidak memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah sunah yang dapat menimbulkan kelelahan fisik berlebihan.

Jika pemahaman demikian tersampaikan secara baik, akan bisa menekan angka kematian tersebut. Ke depan, pemerintah kiranya kembali memperhatikan usia jemaah calon haji agar tidak lebih dari 60 tahun.

Pertimbangannya, daya tahan fisik dan kesehatan di usia tersebut tidak mendukung untuk melaksanakan ibadah yang mengandalkan ketahanan fisik tersebut. Karena itu, perlu dipertimbangkan, jemaah calon haji lanjut usia berangkat tidak harus menunggu antrean.

Semoga demikian dan mudah-mudahan pemulangan jemaah haji tahun ini berjalan lancar, pun yang purna menunaikan manasik, beroleh haji mabrur. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help