BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Jangan Renggut Keceriaan Anak-anak

Meski kita meyakini soal hidup dan mati adalah urusan Yang Maha Kuasa, tapi perlu dipertanyakan mengapa setelah diimunisasi bukannya tambah sehat

Jangan Renggut Keceriaan Anak-anak
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

BERTURUT-TURUT dua siswa meninggal dunia usai diimunisasi measles and rubella (MR). Nana Puspita Sari (14), siswa SMPN di Bantul, DIY dan Safira Faradika (11), siswa SD di Lumajang, Jawa Timur itu mengembuskan napas terakhir sehari pascaimunisasi di sekolahnya pekan ini.

Sebelumnya, pada Agustus lalu, seorang siswa SD di Jawa Barat, Gina Naziba Yasmin (11) juga meregang nyawa setelah diberikan vaksin untuk mencegah penyakit campak dan gondok itu. Demikian pula yang terjadi pada Clara Minarti Pricilia (7), pelajar kelas II SDN Purwasari pada November 2016, meninggal setelah mendapat vaksin diperuntukkan usia 9 bulan-15 tahun.

Satu per satu korban berjatuhan. Ini, sungguh tragedi di dunia kesehatan. Kita tentu tidak ingin ada lagi korban selanjutnya, cukup sampai di sini, jangan ada lagi yang bernasib seperti Nana, Safira, dan lainnya. Keceriaan mereka terenggut usai menjalani imunisasi.

Meski kita meyakini soal hidup dan mati adalah urusan Yang Maha Kuasa, tapi perlu dipertanyakan mengapa setelah diimunisasi bukannya tambah sehat tapi justru ada yang meninggal dunia. Dan rata-rata dari para korban tersebut, sebelumnya mereka sedang sakit tapi tetap diimunisasi tanpa pemberitahuan kepada orangtuanya.

Memang dinas kesehatan masing-masing daerah itu menegaskan, bahwa meninggalnya para siswa itu bukan disebabkan imunisasi tapi karena sakit yang dideritanya. Namun, masyarakat tentu tidak percaya begitu saja.

Berjatuhannya korban usai pemberian vaksin ke dalam tubuh untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit campak dan gondok itu, membuat orangtua di Kalimantan Selatan (Kalsel) juga menjadi khawatir. Bahkan, ada di antara warga Kota Banjarmasin yang tidak percaya terhadap imunisasi. Ketidakpercayaannya itu muncul, diakuinya, karena kecewa dengan pihak puskesmas.

Padahal, tujuan pemerintah menggelar imunisasi MR ini secara serentak di lingkungan sekolah pastinya mulia, di antaranya untuk meningkatkan derajat kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa. Vaksin ini juga merupakan rekomendasi dari WHO, karena penyakit rubella dikhawatirkan lebih ganas dari campak.

Campak dan rubella merupakan penyakit infeksi yang menular melalui saluran napas yang disebabkan oleh virus. Anak dan orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi campak dan rubella, atau yang belum pernah mengalami penyakit ini, berisiko tinggi tertular.

Namun, imunisasi MR juga memiliki beberapa kontraindikasi atau tidak dapat diberikan pada keadaan ibu hamil, kelainan fungsi ginjal berat, sedang menjalani terapi imunosupresan, kortikosteroid dan radioterapi. Juga kepada penderita leukimia dan anemia, gagal jantung dekompensasi, setelah transfusi darah atau pemberian gamma globulin, serta yang memiliki riwayat alergi terhadap vaksin. Dilakukan penundaan pemberian imunisasi MR jika sedang diare, batuk pilek, dan demam

Kita sebagai warga juga perlu diberi pencerahan secara detail mengapa kematian bisa terjadi pascaimunisasi itu. Sangat perlu dilakukan investigasi terhadap kasus-kasus ini, sehingga selain bisa membuka fakta sebenarnya juga mencerahkan rakyat agar lebih menghargai kesehatan sekaligus tidak antipati terhadap imunisasi secara umum. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help