BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Menakar Keadilan Energi

Tentu saja, adil bukan berarti sama berat, sama jumlah, sama sikap. Namun adil adalah sama mendapat manfaat.

Menakar Keadilan Energi
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

KATA adil merupakan serapan dari Bahasa Arab yang berarti di tengah-tengah, jujur, lurus dan tulus. Dilihat dari sisi terminologis, adil memiliki makna sikap yang bebas dari diskriminasi dan ketidakjujuran. Standar hukum agama, hukum, positif (negara) dan hukum sosial (adat) adalah menjadi patokan untuk bersikap adil.

Tentu saja, adil bukan berarti sama berat, sama jumlah, sama sikap. Namun adil adalah sama mendapat manfaat. Keadilan ini yang sering didengungkan masyarakat Indonesia. Ketika di Pulau Jawa harga satu liter premium Rp 6.500, maka di Papua pun diupayakan sama. Walaupun harus dengan cara subsidi silang. Terlihat nominalnya seperti sama, tapi biaya transportasi di Papua tentu lebih besar dari di Pulau Jawa. Begitulah adil sama manfaat.

Sebenarnya, tidak selalu adil harus seperti itu. Kebanyakan orang merasa adil ketika kebutuhannya terpenuhi. Kadangkala, harga yang tinggi tidak jadi soal. Asalkan pasokan selalu ada.

Keadilan di mata masyarakat itu tidak muluk. Asalkan stok gas elpiji 3 kilogram selalu ada, masyarakat bakal merasa tenang karena kebutuhan energi untuk memasaknya terpenuhi. Tapi, begitu harga tinggi stok si melon lenyap, keadilan itu seakan lenyap.

Keadilan dalam mendapatkan energi-energi dasar di Indonesia memang belum sepenuhnya merata. Contohnya, dalam ketersediaan gas elpiji bersubsidi. Menjadi pertanyaan, kenapa ada masa-masa tertentu gas tiga kilogram ini sulit dicari di pasaran? Mengapa harganya di eceren kadangkala tak terkendali? Dan, mengapa kondisi seperti itu berulang?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu jawaban yang didapat dari pihak-pihak penanggung jawab sangat normatif. Seperti melonjaknya permintaan, ada kendala teknis di lapangan terutama dalam distribusi sampai ada permainan di tingkat eceran. Jawaban seperti ini tidak memuaskan.

Berkaca pada saat Indonesia masih mengandalkan minyak tanah sebagai bahan energi utama untuk rumah tangga, persoalan yang dihadapi masyarakat serupa. Minyak tanah sering langka di pasaran, gas pun iya. Ada spekulan yang memainkan harga minyak tanah, gas elpiji 3 kilogram pun sama. Persoalan sulitnya mendapatkan minyak tanah pada waktu tertentu selalu berulang, sama juga kondisinya saat ini di masa energi itu telah terkonversi menjadi gas.

Artinya, pemerintah belum mampu menghadirkan keadilan dalam mendapatkan energi. Sebab, persoalan krusialnya belum benar-benar terpecahkan. Selama persoalan distribusi, harga, spekulan dan lainnya belum terpecahkan atau malah dianggap dinamika biasa dalam bidang energi, maka apa pun jenis energinya, maka persoalannya selalu sama. Atau mungkinkah persoalan ini dipelihara?

Semoga saja tidak benar, karena pemerintah saat ini memang berusaha untuk menegakkan keadilan di segala bidang termasuk energi. Energi mau tidak mau adalah satu item krusial dalam berkehidupan. Sebab, energi kebanyak bukan terbarukan sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dikelola dengan benar, didistribusikan merata, didapat dengan mudah dan harga yang sesuai isi kantong. Keadilan energi bukan isapan jempol atau mimpi belaka, tapi bisa diwujudkan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help