Mimpi Singapura

Karena etnis Melayu belum pernah terwakili maka kali ini jabatan Presiden hanya boleh diperebutkan oleh etnis Melayu.

Mimpi Singapura
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

SINGAPURA, negeri tetangga kita baru saja memiliki Presiden baru, Halimah Yacob. Halimah merupakan Presiden pertama perempuan yang dilantik Rabu 13/9/2017 lalu. Halimah adalah satu satunya dari lima kandidat yang memenuhi syarat, antara lain orang Melayu dan pernah memegang jabatan publik yang penting. Dia memang mantan ketua parlemen karenanya dinyatakan memenuhi kriteria.

Empat kandidat lain, dua bukan dari etnis Melayu dan dua lainnya tidak mendapat surat keterangan yang menunjukkan kelayakan atas dirinya, jadi gugur. Calon tunggal di sana tidak perlu disandingkan dengan kotak kosong, langsung ditetapkan.

Pemilihan Presiden kali ini adalah yang pertama sejak perubahan konstitusi Singapura yang memudahkan orang Melayu menjadi kepala negara. Ini sebuah perubahan besar sekaligus menyimpan pesan toleransi yang amat mendalam.

Ceritanya sejak 1991 Singapura menyelenggarakan pilpres secara langsung. Selama itu pula belum pernah etnis Melayu memenangkan pilpres. Etnis India pernah satu kali menang dan selebihnya didominasi etnis China. Etnis Melayu memang pernah menjadi Presiden satu kali, tapi sebelum sistem pemilihan langsung diberlakukan.

Melihat “ketimpangan” ini Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengusulkan perubahan konstitusi yang menyatakan bila lima kali pilpres berturut-turut ada etnis yang tak terwakili, maka dalam pipres berikut jabatan Presiden harus dikompetisikan pada etnis tersebut. Usulan yang bijak ini disetujui DPR.

Karena etnis Melayu belum pernah terwakili maka kali ini jabatan Presiden hanya boleh diperebutkan oleh etnis Melayu. Tak ada keberatan dengan konstitusi baru, etnis mayoritas menerima Presiden dari minoritas. Kedudukan Presiden tetap mewakili Singapura sebagai negara multi ras dan inklusif. Singapura berpenduduk sekitar 5,5 juta jiwa, 74 persen etnis Tionghoa, 13 persen Melayu, 9 persen India, selebihnya etnis lain-lain.

Singapura adalah negara pulau di semenanjung Malaya. Awalnya negeri ini merupakan bagian dari Malaya (sekarang Malaysia), kemudian mendapat kemerdekaan sebagai negara sendiri. PM Lee Kuan Yeuw berhasil menyulap Singapura menjadi negara yang gemerlap, makmur lewat peranannya dalam perdagangan dunia.

Tidak ada perusahaan dagang di dunia yang tidak punya perwakilan di Singapura. Tidak ada kapal-kapal asing lewat Selat Malaka yang tidak singgah di Singapura. Dia juga memiliki perguruan tinggi terkemuka di dunia. Putra putri Presiden Joko Widodo juga menimba ilmu di sana. Semua orang ingin berkunjung ke Singapura untuk wisata, belanja, berobat bahkan berjudi.

Pendeknya negeri gurem itu punya multi peran signifikan di dunia. Berita terakhir bahkan menyebutkan Indonesia akan mengimpor gas alam cair dari Singapura, padahal negeri itu tidak punya sumber daya alam. Impor minyak dari Singapura sudah dari dulu.

***

Presiden Singapura bukanlah penguasa eksekutif, karena kekuasaan ini ada di tangan Perdana Menteri. Karena itu pemilihan PM lebih menarik perhatian dunia, karena peran Singapura yang begitu penting di dunia perdagangan. Namun ada juga hak-hak istimewa yang melekat misalnya memveto penggunaan kekayaan negara.

Indonesia juga pantas belajar dari Singapura dalam mengayomi keberagaman. Pemerintah mencanangkan kebinekaan, toleransi dan demokrasi, tapi terbelenggu oleh kepentingan kelompok.

Presiden Joko Widodo berupaya mendobrak ini dan sangat terasa pada peringatan HUT Kemerdekaan ke-72 yang lalu. Semangat kebangsaan, kebhinekaan dan persatuan menggemuruh ke seluruh negeri lewat berbagai kegiatan yang terus bergema. Orang harus diyakinkan bahwa sikap intoleran yang belakangan menonjol hanyalah karena kepentingan kelompok tertentu saja.

Ini bedanya dengan Singapura, mereka sadar sebagai negara kecil harus kompak menjaga negeri. Persatuan dan toleransi lebih diutamakan. Keberhasilan pemerintah Singapura untuk menerapkan disiplin yang tinggi pada rakyat menghasilkan negeri yang tertib. Tidak ada orang naik motor lewat trotoar, tidak ada kelompok yang bercita-cita mengganti dasar negara.

Tak kalah menakjubkan, sebagai negeri kecil Singapura bisa berjaya di arena SEA Games. Menduduki ranking 4, mengungguli Indonesia yang berada di urutan 5. Padahal kita memiliki 260 juta penduduk dengan beragam kemampuan. Ini berkat kerja keras, disiplin dan anti korupsi. Singapura termasuk pelopor negara anti korupsi di dunia. Mimpi Singapura menguasai dunia sudah jadi kenyataan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved