BanjarmasinPost/

Antara OTT dan FASI

Kamis, 14 September 2017, jelang tengah malam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Banjarmasin.

Antara OTT dan FASI
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Kamis, 14 September 2017, jelang tengah malam, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Banjarmasin. Empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Dua dari PDAM Bandarmasih yaitu Muslih (Direktur Utama) dan Trensis (Manajer Keuangan) dan dua lagi dari DPRD Kota Banjarmasin yaitu Iwan Rusmali (Ketua DPRD) dan Andi Effendi (Wakil Ketua).

“Akhirnya Banjarmasin terkenal juga, diliput media,” kata seorang kawan sinis. Terkenal karena kasus dugaan suap tentu berbeda dengan terkenal karena prestasi. Kebetulan, kasus ini terkuak saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Banjarmasin, menghadiri Festival Anak Saleh Indonesia (FASI). Kabar baiknya, Kalimantan Selatan juara umum lagi tahun ini, setelah tahun lalu juga juara umum di Bandung, Jawa Barat.

Saya pun teringat cerita istri saya. Saat lomba pidato FASI tingkat Kota Banjarmasin, Sabtu, 11 Maret 2017 lalu, seorang anak dengan semangat berpidato,”Teman-teman sekalian. Jujur itu hebat, membuat kita selamat dunia akhirat. Betul atau tidak?” Seorang lelaki di lapangan parkir berteriak, “Tidak!” Saya kesal sekali mendengar cerita itu. Tetapi enam bulan kemudian, paradoks ini terbukti!

Alih-alih mengajari anak-anak kita tentang kejujuran, kita justru perlu belajar pada mereka. Dunia yang penuh kepalsuan ini, perlu mengaca pada wajah anak-anak kita yang polos dan apa adanya. Anak-anak tidak punya banyak keinginan selain kebutuhan dasarnya dan bermain bersama teman-temannya. Anak-anak gampang tidur pulas karena mereka tak merasa khawatir akan masa depan.

Anak-anak memang lahir dalam keadaan suci-murni, yang disebut fitrah. Itulah hakikat manusia yang cenderung kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Ibarat berlian, fitrah itu akan berkilau jika digosok oleh pendidikan orangtua dan lingkungan yang baik, tetapi akan redup jika terbenam dalam lumpur. Rusaknya generasi muda adalah akibat generasi tua tidak memberikan contoh yang baik.

Tentu saja, paradoks hidup manusia bukan hanya terjadi antara kepolosan anak-anak dan kepalsuan orangtua. Paradoks itu juga ada di antara orang dewasa itu sendiri. Bahkan paradoks itu ada dalam diri kita masing-masing. Ada orang yang jujur dan bersih, dan ada pula orang munafik yang tak peduli halal-haram. Ada orang yang dikendalikan dan ada yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Ada berbagai sebab mengapa orang terjerat kasus korupsi. Ada yang sekadar khilaf akibat tidak mengerti administrasi atau dikibuli anak buah. Tetapi ada pula yang memang benar-benar berniat memperkaya diri. Mungkin saja politisi yang korupsi bukan karena serakah, tetapi karena ongkos politik yang mahal, sehingga dia harus menyiapkan dan mengembalikan modal yang dikeluarkan.

Karena itu, alih-alih menuding para tersangka korupsi saja, kita semua harus introspeksi. Benarkah korupsi dalam masyarakat kita ini semata-mata kesalahan orang-orang yang kebetulan tertangkap? Jika masyarakat menolak politik uang, akankah biaya politik tinggi? Jika elite eksekutif, legislatif dan yudikatif berlaku jujur dan bersih, apakah mereka masih perlu uang sogok? Tentu saja tidak!

Di sisi lain, kita pun tidak bisa menyalahkan masyarakat begitu saja. Bukankah mayoritas rakyat kita masih miskin? Bukankah orang miskin sangat mudah tergoda dengan politik uang? Padahal, kaum elite politik menyadari betul akan kenyataan ini. Daripada susah payah menyejahterakan rakyat, bagi mereka lebih mudah menyogok rakyat saat pemilu. Setelah pemilu, sesama elite tinggal berbagi jatah.

Apakah kita tiba di jalan buntu? Tidak. Kita masih punya harapan. Kita perlu belajar dari keberanian anak-anak kita yang berpidato lantang tentang kejujuran dan sabar terhadap cemooh orang dewasa. Karena, seperti kata Krisna dalam Mahabarata, “Kebenaran dan keadilan hanya dapat diperjuangkan dengan keberanian dan kesabaran.” Berani dan sabar itu berat, tetapi tidak mustahil, bukan? (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help