Berita HSS

Nelayan dan Penyetrum Ikan Sering Bentrok di Danau Bangkau, Warga Pun Waswas Mencari Ikan

Wajar para nelayan tradisional khawatir, karena sebelumnya pernah terlibat bentrok hingga menimbulkan korban jiwa.

Nelayan dan Penyetrum Ikan Sering Bentrok di Danau Bangkau, Warga Pun Waswas Mencari Ikan
Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Selasa (19/9/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN – Para nelayan tradisional Desa Bangkau, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dicekam kekhawatiran lantaran masih maraknya aktivitas illegal fishing (penyetruman) oleh oknum warga di luar Danau Bangkau.

Wajar para nelayan tradisional khawatir, karena sebelumnya pernah terlibat bentrok hingga menimbulkan korban jiwa.

Alhasil, kini para nelayan tradional yang menghuni di sekitar Danau Bangkau harus berhati-hati dalam mencari ikan di kawasan tersebut. Sejumlah peristiwa bentrok antara nelayan tradisional dengan pencari ikan dengan alat setrum (illegal fishing) beberapa waktu lalu menjadikan suasana di kawasan itu sehari-hari selalu mencekam.

Melimpahnya ikan air tawar di Danau Bangkau menjadikan lokasi itu sebagai surganya para pencari ikan. Mereka berasal dari tiga kabupaten yakni Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Utara (HSU). Lokasi Danau Bangkau sendiri berada di wilayah tiga kabupaten tersebut.

Namun, lumbung ikan yang seharusnya dijadikan lokasi untuk meraih rizeki dengan cara yang baik, justeru disalahgunakan oleh oknum warga yang melakukan kegiatan illegal fishing.

Setiap tahun, kasus bentrok antara pencari ikan tradisional versus ilegal fishing terus terjadi. Bahkan, menelan korban luka hingga korban jiwa.

Pertengahan Mei 2017, peristiwa penembakan dialami warga Kandangan saat mencari ikan dengan cara tredisional (melunta). Dua peluru bersarang di punggung M Noor (50) yang ditembak di Danau Bangkau.

Sampai saat ini, pelaku penembakan yang diduga dilakukan oleh para pencarikan ikan dengan cara menyetrum masih belum berhasil diamankan. Beruntung, nyawa M Noor masih bisa diselamatkan.

Akhir Agustus lalu giliran korban jiwa jatuh dari penyetrum ikan di wilayah HST, tepatnya di perairan Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan. Lokasi ini masih terhubung dengan perairan Danau Bangkau di HSS. Arbain, penyetrum ikan warga desa Sungai Buluh tewas setelah menjalani perawatan di RS Damanhuri Barabai. Sementara Ibrahim, rekan Arbain, mengalami luka di bagian paha.

Peristiwa penembakan terjadi saat tim gabungan Satpolair Balimau dan warga melakukam giat razia di perairan Kayu Rabah. Tiba-tiba saja para penyetrum diperkirakan berjumlah sekitar 30 orang melakukan perlawanan. Polisi pun menembak penyetrum ikan karena mengangkat parang bermaksud menyerang petugas yang hanya berjarak dua meter.

"Sampai saat ini, aktivitas penyetrum ikan masih terjadi. Kita masih was-was saat mencari ikan," tutur Anang, warga Desa Bangkau, kemarin.

Bukti adanya aktivitas penyetruman ikan itu, ungkap Anang saat malam hari masih terlihat lampu-lampu pencari ikan. Padahal, kata dia, sudah ada perjanjian tidak ada lagi aktivitas mencari ikan pada malam hari.

Selain itu, adanya ikan yang mati mengapung di Danau Bangkau diduga sebagai bukti aktivitas penyetruman. (*)

Baca Lebih Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Selasa (19/9/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved