BanjarmasinPost/

Myanmar, Bangladesh dan Peran Indonesia

Sudah berkali-kali demo besar digelar, baik di ibu kota maupun di daerah-daerah, sebagai bentuk simpati untuk muslim Rohingya,

Myanmar, Bangladesh dan Peran Indonesia
bpost cetak
Ahmad Barjie B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari 

Oleh: AHMAD BARJIE B
Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel
Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari

Sudah berkali-kali demo besar digelar, baik di ibu kota maupun di daerah-daerah, sebagai bentuk simpati untuk muslim Rohingya, sekaligus mengutuk pemerintah Myanmar. Tidak ketinggalan ulama dan ustadz melalui mimbar khotbah, ceramah dan pengajian mengajak berdoa untuk keselamatan muslim Rohingya yang terusir dari Myanmar. Penggalangan dana kemanusiaan juga dilakukan guna meringankan beban saudara-saudara di sana.

Memang demikianlah seharusnya, karena muslim itu di mana saja bersaudara. Orang yang menolong saudaranya di dunia pasti akan ditolong Allah di akhirat. Bahkan di dunia pun sudah ditolong dan diberi reward. Ada seorang remaja yang hanya punya uang Rp 200 ribu di dompetnya, nekad menyumbang Rp 100 ribu untuk muslim Rohingya. Ternyata sore harinya langsung dibalas Allah, dia beroleh rezeki jauh melebihi nilai sumbangannya.

Beragam Tuntutan
Jika dicermati tuntutan para pendemo selama ini, tampak muatannya bervariasi, dari tuntutan keras hingga lunak. Ada yang mendesak agar Indonesia segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar, karena negara tersebut bertindak di luar perikemanusiaan.

Ada yang meminta PBB segera mengi­rim pasukan multinasional agar bisa memberikan tekanan signifikan terhadap Myanmar, sekaligus menyelamatkan muslim Rohingya yang sedang terjepit dan terusir. Ada pula yang meminta Panitia Nobel mencabut saja Hadiah Nobel Perdamaian yang pada 1991 diberikan kepada Aung San Suu Kyi pemimpin de facto Myanmar, karena yang terjadi di negaranya justru bertentangan dengan prinsip HAM dan nilai-nilai perdamaian.

Ada juga yang meminta Bangladesh membuka perbatasannya, supaya pengungsi Rohingya bisa masuk dengan aman. Tuntutan ini disuarakan karena sebelumnya pengungsi Rohingya juga dilarang masuk Bangladesh. Mereka yang terusir dari negaranya sempat dihalangi oleh pasukan penjaga perbatasan, sehingga nasib mereka makin mengenaskan.

Kini Bangladesh sudah terbuka dan bersedia menampung sementara pengungsi yang berjumlah ratusan ribu, menyusul gelombang pengungsi terdahulu yang sudah ratusan ribu orang. Indonesia pun sampai hari ini telah mengirim puluhan ton logistik melalui lebih dari enam kali penerbangan Hercules ke Bangladesh.

Menyandarkan harapan pada Bang­ladesh sebagai salah satu solusi krisis Rohingya tentu terlalu naif. Bangladesh sampai saat ini masih tercatat sebagai negara muslim termiskin. Meskipun pertumbuhan ekonominya kian membaik, negara berpenduduk 150 juta dan terpadat di dunia itu, masih sulit keluar dari problema yang melilitnya.

Menerima pengungsi Rohingya juga dilematis bagi Bangladesh. Mengingat ada kesamaan warna kulit, perawakan, bahkan bahasa, sulit membedakan mana orang Bangladesh asli dan mana Rohingya. Di Bangladesh juga ada kelompok militan, kalau ada orang Rohingya bergabung, Bangladesh akan kerepotan. Mereka bisa menjadi masalah sosial dan politik baru.

Kuncinya Pada Myanmar
Kunci solusi masalah ini ada pada Myanmar sendiri. Sayangnya negara yang dulu bernama Burma ini masih berada di atas angin dan bergeming terhadap tekanan internasional. Myanmar menolak ajakan militan Rohingya untuk melakukan gencatan senjata barang satu bulan, guna memudahkan bantuan kemanusiaan masuk ke Rakhine State. Bahkan Myanmar berani menolak pekerja kemanusiaan dari negara mana pun termasuk dari PBB dan AS. Marzuki Darusman, politisi senior asal Indonesia yang kini aktif dalam Dewan HAM PBB telah lama gagal masuk Myanmar karena tidak diizinkan otoritas setempat.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help