BanjarmasinPost/

Berita Kotabaru

Waduh, Sumber Air Bersih di Kotabaru Terancam Aktivitas Pertambangan

Untuk daratan Kalimantan, sumber air baku berpotensi tercemar zat kimia yang disebabkan aktivitas pertambangan batu bara, emas, dan perkebunan.

Waduh, Sumber Air Bersih di Kotabaru Terancam Aktivitas Pertambangan
Banjarmasin Post
Banjarmasin Post Edisi 19 September 2017 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU -  Mengandalkan air baku dari air sungai dan tadah hujan, pengelolaan air baku yang dikelola PDAM Kotabaru terbagi dari dua wilayah, yakni wilayah Pulaulaut dan daratan Kalimantan.

Untuk daratan Kalimantan, sumber air baku berpotensi tercemar zat kimia yang disebabkan aktivitas pertambangan batu bara, emas, dan perkebunan kelapa sawit.

Sementara, lanjut dia, di Pulaulaut potensi tercemarnya air baku disebabkan karena biologis, unsur manusia serta faktor alam.

“Misalnya, perkebunan masyarakat, ladang berpindah, palawija dan aktivitas masyarakat,” kata Noor Ipansyah, Direktur PDAM Kotabaru.

Disebutkan dia, debit air baku waduk di embung Gunung Tirawan, Desa Tirawan, Kecamatan Pulaulaut Utara, tidak bisa mencapai maksimal 250 ribu kubik. Hal itu karena pemda belum melakukan pembebasan lahan warga di sekitar embung.

“Selama lahan masyarakat belum dibebaskan debit air baku di embung Gunung Tirawan tidak bisa ditingkatkan. Persoalannya, jika debit air baku dimaksimalkan sampai 250 ribu kubik akan berimbas pada kebun dan tanaman masyarakat,” ungkapnya.

Menyikapi potensi ancaman pencemaran, pihaknya telah menyampaikan permohonan kepada pemerintah daerah membuat peraturan daerah (perda) perlindungan air baku. “Itu salah satu upaya perdanya,” kata Ipansyah, Selasa (19/9).

Mengacu aturan di atasnya seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah (PP), disebutkan dia, aturannya sudah jelas. Hanya turunan aturan tersebut dalam bentuk perda yang belum ada.

“Upaya lain selain perda, pihaknya meminta Dinas Lingkungan Hidup yang memiliki otoritas dan fungsi di bidang itu mengoptimalkan kegiatan yang bisa menimbulkan pencemaran.

Sumber air baku di wilayah daratan Kalimantan tersebar di lima kecamatan yakni Kelumpang Hilir, Kelumpang Hulu, Hampang, Sungaidurian, dan Pamukan Barat. Dari lima sumber air baku itu aktivitas perkebunan berada di hulu sungai.”Contohnya Cantung (Kelumpang Hulu) hanya berjarak sekitar tiga kilometer.”

Said Rijadi Farhani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kotabaru mendukung adanya perda perlindungan air baku.

Menurut dia, perda bisa menjadi payung hukum yang bisa diimplementasikan ketika terjadi pencemaran yang diakibatkan aktivitas pertambangan dan perkebunan. (*)

Editor: Yamani Ramlan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help