Obat Hati

Di Zaman Rasulullah Meninggalkan Negeri Orang Kafir, Ini Esensi dan Pengertian Hijrah di Era Global

HIJRAH di dalam Kitab Atta'riifaat artinya adalah meninggalkan negeri orang kafir berpindah ke tempat negeri orang Islam.

Di Zaman Rasulullah Meninggalkan Negeri Orang Kafir, Ini Esensi dan Pengertian Hijrah di Era Global
Harian Metro Banjar Edisi Cetak Jumat (22/9/2017) Halaman 1 

Oleh: KHP Wardiansyah SH MH
Pengasuh PP Hidayatullah Taman Hudaya Martapura

BANJARMASINPOST.CO.ID - HIJRAH di dalam Kitab Atta'riifaat artinya adalah meninggalkan negeri orang kafir berpindah ke tempat negeri orang Islam. Dan pengertian yang lain hijrah adalah meninggalkan sesuatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hijrah adalah upaya seorang muslim untuk meninggalkan suatu negeri orang kafir atau negeri yang penuh dengan kemungkaran menuju negeri muslim yang damai dan penuh barakah dari Allah SWT sekaligus meninggalkan seluruh aktivitas yang dilarang oleh Allah dalam berbagai bentuknya.

Pada zaman global ini tentunya hijrah yang paling esensial ialah bagaimana kita bisa merubah sikap hidup kita dari pekerjaan yang dilarang dan dibenci oleh Allah kepada kegiatan yang diperintah dan dicintai Allah SWT.

Apakah pekerjaan itu yang berhubungan dengan akidah, syariah muamalat maupun jinayah. Dalam bidang akidah kita harus bisa membedakan mana aliran atau sekte yang bertentangan dengan nilai-nilai akidah Islam yang bersumber dari Alquran dan sunnah.

Jika ada akidah yang bertentangan dengan nilai norma yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul ijma ulama dan qiyas maka hendak dijauhi dan jangan diikuti ajarannya,seperti aliran yang tidak mengakui adanya Tuhan dan percaya dengan roh jahat yang dianggap bisa memberikan manfaat dan mudarat.

Dalam bidang ibadah dan muamalat juga banyak praktik yang dilakukan tidak berdasarkan nilai syariat agama Allah. Seperti adanya aliran yang sudah tidak mewajibkan salat, puasa, zakat dan haji, menghalalkan riba, riswah, fungli dsb.

Dalam bidang jinayat, hukum yang dilakukan bukan lagi hukum Allah dan Rasulnya tetapi yang bersumber kepada pemikiran atau hasil karya manusia sehingga keadilan jauh dari harapan. Karena selama syariat Islam tidak dijalankan dengan benar dan konsekuen, tak mungkin tercipta kesejahteraan dan kedamaian dalam dunia ini.

Maka tidak heran hukum hanya berkisar pada tataran lips servis, tanpa diimplementasikan secara benar dan universal. Makanya, tidak heran hukum hanya berlaku untuk orang kecil saja sementara para pelaku kriminal kelas kakap bebas menghirup udara bebas. Kalaupun juga dihukum, sanksinya tidak sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan.

Akibatnya, timbul kesenjangan hukum di kalangan masyarakat yang ingin mendapat keadilan. Kalau negeri mau aman dan sejahtera, maka laksanakan hukum secara elegan.dan konsekuen tidak tabang pilih. siapapun yang melakukan tindakan melawan hukum harus ditindak tegas dan sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved