Berita Jakarta

PKI Dijadikan Isu Besar Jelang 2019, Ini Komentar Ketua Umum PBNU

"Soal PKI itu sejarah bangsa yang menyedihkan jadi tidak usah cari kambing hitam"

PKI Dijadikan Isu Besar Jelang 2019, Ini Komentar Ketua Umum PBNU
tribunnews.com
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj, saat ditemui usai menghadiri akad nikah putri Kepala BNN dan putra Kepala BIN yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu (2/9/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu sejarah bangsa yang menyedihkan dan dijadikan isu besar, karena mendekati tahun politik 2019.

"Soal PKI itu sejarah bangsa yang menyedihkan jadi tidak usah cari kambing hitam. Memang ada yang salah, ada korban. Menurut saya lupakan, itu sejarah," ujar Said yang ditemui di kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Dia berpendapat setiap tahun mendekati 30 September pro kontra pasti terjadi, namun tahun ini menjadi besar karena mendekati tahun politik.

"Setiap tahun dibicarakan. Jokowi dituduh PKI, Hidayat Nurwahid keluaran Madinah juga dituduh PKI, mudah sekali menuduh orang PKI. Tahun ini ya tahun politik, menjadi besar karena ada hubungan 2019," ujar Said (22/9).

Dia juga menuturkan, soal pemutaran G30S PKI di tengah-tengah masyarakat ia mengatakan wajar sebuah film memiliki adegan-adegan yang berlebihan.

"Dalam film itu ada bagian yang disiksa memang keterlaluan, ada bunga-bunganya, ada tambahan sana sini wajar saja," tambah Said.

Ia memberikan satu contoh dalam film G30S PKI adegan yang menurutnya berlebihan.

"DN Aidit itu tidak merokok aslinya, tapi di film itu diceritakan dia merokok, jadi dilebih-lebihkan. 65 persen adegan benar, 35 persen adegan berlebihan," sambungnya.

Ia mengungkapkan tidak permasalahan film G30S PKI dibuatkan versi menurut sejarahnya.

"Mungkin kalian belum pada lahir, saya dulu masih kecil. G30S PKI itu nyata, korbannya ada 7 jenderal. Tidak bisa dipungkiri itu PKI, ga usah diperbincangkan kembali, meluruskan kembali boleh. Bukan dilupakan begitu, tapi kita ambil hikmah sejarah itu dan tidak usah ingat-ingat lagi," tambah Said.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved