Advertorial

Menapak Sukses, Mengecap Gurihnya Jamur

Hasilnya, sebanyak 9 Kg jamur tiram, dan 3 Kg jamur kuping. Usai petik jamur, mereka membersihkan kotoran, agar ketika sampai ke tangan konsumen

Menapak Sukses, Mengecap Gurihnya Jamur
Adaro Indonesia
Petani jamur binaan Adaro Indonesia 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dari sebuah tontonan di televisi. Terlihat mudah, hanya bermodal serbuk gergaji, menghasilkan rupiah. Tertarik untuk menata masa depan. Ia memulai budidaya jamur tiram. Pernah merugi hingga jutaan rupiah. Namun, ia tak menyerah. Kini, perempuan beranak tiga itu, menyalakan pelita di desa Banda Jaya, Batola.

Malam belum seluruhnya beralih. Saat sebagian warga desa masih terlelap, Henni Sri Sukarni (48), bersama Hatni (50), suaminya, sudah terjaga. Mereka bersiap menuju rumah jamur. Dua buah keranjang berukuran besar, bakul, dan lampu senter menjadi bekal.

"Cuaca sedang tidak menentu, ditambah pula, baglog yang ada sudah berumur 6 bulan, mau diganti baru, jadi hasilnya tidak banyak. Kalau panen besar, bisa sampai 40 Kg sekali petik," ujar Henni, menyoal petikan jamurnya subuh itu, Jumat (15/9/2017).

Petani jamur binaan Adaro Indonesia
Petani jamur binaan Adaro Indonesia (Adaro Indonesia)

Hasilnya, sebanyak 9 Kg jamur tiram, dan 3 Kg jamur kuping. Usai petik jamur, mereka membersihkan kotoran, agar ketika sampai ke tangan konsumen, jamur tampak bersih. Bagi Henni, kepuasan pelanggan tak bisa ditawar.

Jamur-jamur yang sudah dibersihkan, kemudian dibagi dalam kresek kecil berukuran seperempat Kilogram. Persatu kresek, dilepas dengan harga Rp 7,000 untuk jamur tiram, sedangkan jamur kuping, biasa dijual kiloan, perkilogramnya seharga Rp 35,000.

Sesaat, saya melirik penunjuk waktu, pukul 05:30 WITa, Henni sudah kembali bersiap membawa jamur-jamur itu ke Pasar Induk Marabahan, ibukota Kabupaten Batola, menggunakan sepeda motor. Seorang diri, ia melesat menembus pagi, menyusuri jarak sepanjang 35 Kilometer, dari rumahnya di Banda Jaya.

Belum sempat mesin motor dimatikan, setibanya di pasar, Henni sudah didatangi sejumlah pelanggan yang umumnya para pedagang sayur keliling. Setengah jam berlalu, jamur tersisa ludes terjual.

"Kalau sudah habis begini, saya harus cepat balik, soalnya nggak enak ketemu pelanggan yang tidak kebagian, mereka kecewa," ungkapnya.

Seperti kala itu, saat ia berpapasan dengan seorang pelanggan di jembatan Rumpiang --penghubung Banjarmasin dan Marabahan-menanyakan jamur. Henni menjawab singkat, habis, di pelanggan langsung balik kanan dengan muka cemberut.

Jatuh Bangun

Halaman
1234
Penulis: Dony Usman
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved