Hari Asyura dalam Sejarah Islam: Tentang Kesyahidan Cucu Nabi dan Puasanya Nabi Musa

Dalam sejarah Arab, hari 'Asyura (10 Muharram) adalah hari raya bersejarah. Pada hari itu setiap suku mengadakan perayaan dengan mengenakan pakaian

Hari Asyura dalam Sejarah Islam: Tentang Kesyahidan Cucu Nabi dan Puasanya Nabi Musa
banjarmasinpost.co.id/abdul ghanie
Warga membuat bubur Asyura menggunakan beberapa kawah di Antasan Senor Martapura, Selasa (11/10/2016) 

BANJARMASNPOST.CO.ID - Mendengar kata 'Asyura' bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan, selalu indentik dengan pembuatan bubur.

Karena itulah sering dinamakan bubur Asyura.

Pelaksanaannya setiap tanggal. 10 Muharram.

Namun sebenarnya makna bubur Asyura sendiri diiringi dengan pelaksanaan puasa sunat, bubur tersebut dimasak untuk menu berbuka puasa.

Hari Asyura sendiri dalam Islam mengandung sejarah yang erat kaitannya dengan cucu Nabi Muhammad.

Dikutip dari Wikipedia, Hari Asyura (عاشوراء ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh.

Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syi'ah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas kesyahidan Husain bin Ali, cucu dari Nabi Islam Muhammad pada Pertempuran Karbala tahun 61 H (680).

Akan tetapi, Sunni meyakini bahwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena Bani Israil sudah terbebas dari Fira'un (Exodus).

Menurut tradisi Sunni, Nabi Muhammad berpuasa pada hari tersebut dengan jumlah dua hari dengan tujuan menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani, dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa.

Pada masa pra-Islam, 'Asyura diperingati sebagai hari raya resmi bangsa Arab.

Halaman
123
Penulis: Ernawati
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved