BanjarmasinPost/

Berita Hulu Sungai Tengah

Waduh! Pelajar di HST Banyak Tak Tahu Sejarah G30S PKI, Ternyata Ini Masalahnya

Seperti adanya penghkhianatan PKI dalam Gerakan 30 September 1965, yang menggurkan tujuh pahlawan revolusi. Hal tersebut disadari sejumlah guru

Waduh! Pelajar di HST Banyak Tak Tahu Sejarah G30S PKI, Ternyata Ini Masalahnya
Hanani
Suasana menyaksikan film Pemberontakan PKI, pada peringatan G 50 S/PKI di Aula Kodim 1002 Barabai, Sabtu hingga Minggu pagi, yang dihadiri Muspida serta masyarakat HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Di bawah tahun 2000 siswa SD/MI, SMP/MTs sampai SMA/SMK masih banyak diberikan porsi pelajaran sejarah Indonesia. Namun, di atas tahun tersebut, pelajaran sejarah Indonesia seperti Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) tidak diajarkan lagi. Dampaknya, saat ini banyak siswa yang tak memahami sejarah penting negeri ini.

Seperti adanya penghkhianatan PKI dalam Gerakan 30 September 1965, yang menggurkan tujuh pahlawan revolusi. Hal tersebut disadari sejumlah guru di Hulu Sungai Tengah. Salah satunya, Sajuti, guru berlatar belakang pendidikan Sejarah, yang kini mengajar pendidikan kewarganegaraan di SMKN 1 Barabai. Sajuti menyatakan, kondisi tersebut karena saat ini porsi pelajaran sejarah Indonesia sangat minim, khusunya di SMK.

“Kalau di SMA, mungkin di SMA, masih diajarkan dari kelas X sampai XII. DI SMK hanya di kelas X. Itupun sejarahnya tidak spesifik ke sejarah perjuangan Tapi lebih kepada sejarah zaman kuno. Tak ada pelajaran tentang sejarah perjuangan bangsa, seperti diajarkan kepada siswa di tahun 70-sampai 90-an ke atas,”katanya.

Siswa zaman dulu, diajari Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian pada kurikulum baru diubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, hingga kemudian menjadi PKN (pendidikan Kewarganegaran saja. Pada kurikulum 2013, PPKN dikembalikan, namun hanya diterakan di Banjarmasin sampai HSS. Baru tahun ini mau dikembalikan ke SMK di HST lagi,”kata Sajuti.

Menurut Sajuti, dalam kondisi sekarang, sangat penting dan relevan, kembali diterapkan pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila (P4), serta pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang spesifik membahas sejarah Indonesia dan perjuangannya hingga menjadi negara yang merdeka.

“Kita bandingan dengan negara Amerika, dimana untuk menjadi anggota Tentara atau polisi, wajib mengetahui sejarah bangsanya. Karena negera itu mengangap betapa pentingnya sejarah, bagi penerus berikutnya,”jelas Sajuti. Diapun mendukung kebijakan Panglima TNI, yang saat ini mewajibkan seluruh Korem,/kodim hingga Danramil memutar kembali film G30S /PKI dan mengajak masyarakat masyakat menonton bersama.

Pentingnya menambah pelajaran sejarah, juga dikemukakan Anwar Haziki, Kepala SMPN Satu Atap Kinas Kiri. Menurutnya, siswa kini masih minim informasi sejarah, khususnya sejarah Indonesia. “Zaman dulu, diajarkan PSPB mulai SMP, sampai SMA. Sekarang tidak ada lagi. Saya sependapat dengan Panglima TNI, pelajaran sejarah harus terus diajarkan, jangan sampai anak-anak tak tahu sejarah perjuangan pahlawan-pahlawan kemerdekaan maupun pahlawan revolusi,,”kata Anwar.

Baik Sajuti maupun Anwar, juga setuju, jika pemerintah kembali mewajibkan siswa menonton film pemberontakan PKI, tiap memperingati Gerakan 30 September, agar siswa faham, bahwa ajaran komunis dilarang di negeri ini, karena sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help