BanjarmasinPost/

Sejumlah Tanya

Socrates, tokoh legendaris filsafat Yunani itu mengatakan bahwa dalam berpikir, pertanyaan yang kita ajukan jauh lebih penting

Sejumlah Tanya
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Socrates, tokoh legendaris filsafat Yunani itu mengatakan bahwa dalam berpikir, pertanyaan yang kita ajukan jauh lebih penting daripada jawaban yang kita dapatkan. Sejalan dengan ini, para ilmuwan sering mengatakan, dalam penelitian, rumusan masalah yang baik sudah merupakan separuh dari jawaban.

Sepanjang September 2017 hingga hari ini, orang ramai membincangkan isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan perlu tidaknya pemutaran film Pengkhianatan G-30-S PKI yang sejak Era Reformasi sudah tidak tayang lagi. Dalam perdebatan publik mengenai masalah ini, sejumlah pertanyaan muncul, dan masing-masing pihak berusaha memberikan jawaban. Pada akhirnya, kontroversi sulit dihindari.

Pertanyaan pertama yang diajukan adalah, benarkah PKI bangkit? Yang satu bilang ‘ya’, dan yang satu lagi ‘tidak’. Masalahnya, apa yang dimaksud dengan ‘benar’ di sini? Adakah bukti-bukti empiris yang mendukung masing-masing pendapat? Apakah informasi yang beredar di media sosial adalah asli atau hoax alias palsu? Entah kenapa, pertanyaan-pertanyaan ini cenderung hilang dalam perdebatan.

Kemudian muncul survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Pertanyaan yang diajukan adalah, apakah responden setuju bahwa sekarang terjadi kebangkitan PKI. Ternyata, 86,8 persen tidak setuju, dan 12,6 persen setuju. Kemudian, hanya sekitar 5 persen yang yakin bahwa PKI kini sudah mengancam negara kita. Karena itu, menurut SMRC, sebagai isu politik, isu ini tidak menimbulkan pengaruh yang besar.

Debat berlanjut ke soal penayangan film Pengkhianatan G-30-S PKI. Pertanyaan yang muncul, mengapa kita perlu atau tidak perlu menonton film ini? Ada yang bilang, film ini perlu ditonton lagi agar kita tidak melupakan bahaya PKI. Yang lain bilang, film ini penuh propaganda rezim Orde Baru sehingga tidak baik ditonton. Ada lagi yang berkata, sebagai karya seni, film ini adalah karya hebat yang patut diapresiasi.

Yang kurang dibahas adalah, mengapa film tersebut kontroversial? Apa saja pendapat para ahli sejarah tentang Gerakan September Tigapuluh (Gertapu) itu? Orang sepertinya malas membaca buku-buku para ahli sejarah dan politik yang tebal-tebal, yang ditulis dengan hati-hati selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Orang lebih mudah percaya pada informasi instan di media sosial, lalu saling menuduh.

Selain dua masalah di atas, tampaknya hampir tidak ada yang mengajukan pertanyaan, mengapa dulu PKI berkembang pesat di Indonesia? Apakah keadaan bangsa kita saat ini serupa dengan masa kejayaan PKI itu? Bagaimanakah kondisi politik dan ekonomi nasional dan internasional saat terjadi kudeta 1965? Apakah keadaan pada 1965 itu memiliki ciri-ciri yang serupa dengan keadaan bangsa kita sekarang?

Sekali lagi, agar lebih meyakinkan, pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab melalui karya-karya ilmiah para ahli sejarah dan politik dari dalam dan luar negeri. Jika kita sudah menemukan jawaban-jawabannya, maka dengan mudah kita akan bisa menilai, apakah kebangkitan PKI itu memang sangat mungkin saat ini dan benar-benar berbahaya ataukah justru sebaliknya, sangat tipis kemungkinannya.

Belum lagi jika pertanyaan dilanjutkan ke peristiwa-peristiwa setelah Gestapu. Jika kudeta yang gagal itu telah membunuh dengan kejam para jenderal kita, apakah pembunuhan yang terjadi terhadap orang-orang PKI dan simpatisannya (konon mencapai ratusan ribu) tak kalah kejam? Mengapa kekejaman semacam itu terjadi? Apakah langkah terbaik yang harus diambil untuk mengobati luka-luka sejarah ini?

Selain itu, terlepas dari keunikan peristiwa-peristiwa sejarah, gerakan besar apapun, termasuk PKI, hanya mungkin terjadi ketika ada dorongan yang kuat dalam diri manusia untuk meraih kesejahteraan dan keadilan. Komunisme menjanjikan kesejahteraan yang merata, terutama bagi rakyat kecil seperti kaum buruh dan tani, meskipun terbukti setelah negara komunis berdiri, janji itu jauh panggang dari api.

Karena itu, selain memikirkan aneka pertanyaan di atas, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah debat soal kebangkitan PKI dan ancamannya ini dilandasi oleh keinginan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia, ataukah sekadar akrobat politik belaka? (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help