BanjarmasinPost/

Berita Banjarbaru

Mengikuti Perjalanan Sadikin, Guru Disabilitas di SLB Kalsel, Berharap Bisa Ikut PON Papua

Kerap kali murid taman kanak-kanaknya kabur. Sadikin pun harus mengejarnya. Kendati muridnya seorang bocah, hal itu tak mudah bagi Sadikin.

Mengikuti Perjalanan Sadikin, Guru Disabilitas di SLB Kalsel, Berharap Bisa Ikut PON Papua
Banjarmasin Post Edisi Sabtu (7/10/2017) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kerap kali murid taman kanak-kanaknya kabur. Sadikin pun harus mengejarnya. Kendati muridnya seorang bocah, hal itu tak mudah bagi Sadikin.

Itu karena kaki Sadikin cacat dan harus menggunakan kaki palsu sejak kecil. Selain harus berhati-hati karena kaki palsunya tak sekuat kaki asli, Sadikin pun harus menahan nyeri. “Kerap saya tahan saja,” ujar guru honorer di SLB C Pembina Provinsi Kalsel di Jalan A Yani Kilometer 21 Banjarbaru ini.

Sadikin mengajar di sana sejak dua tahun lalu. Dia bertugas di taman kanak-kanak. Anak didiknya tentulah anak berkebutuhan khusus. “Saya ngajar di TK luar biasa dan kadang juga bantu di TK inklusi,” ujarnya kepada BPost, Jumat (6/10).

Menjadi pengajar TK LB juga bukanlah hal mudah. Selain memberikan pengajaran, guru juga harus ekstrasabar menghadapi anak hiperaktif, autis dan mengalami permasalahan lain.

Meski harus lari-larian mengejar anak didik yang kerap kabur dan tak bisa diam, bagi Sadikin hal itu adalah suatu keseruan dalam mengajar.

Baca juga: Resmi Dibekukan BI, Pimpinan Paytren Yusuf Mansyur Kalsel Tetap Ajak Masyarakat Jadi Anggota

“Saya dulu juga sekolah di sini, jadi saya teringat kembali saat saya diajar guru-guru saya,” ujar lulusan Pendidikan Luar Biasa Fakutas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Lambung Mangkurat (PLB FKIP ULM) ini.

Namun berkat kesabaran dan ketabahan, kelakuan anak hiperaktif dan autis bisa diatasi. Apalagi dia memang telah lama berada di sekolah tersebut. Selain sekolah hingga SMA di sini, pria asal Binuang Kabupaten ini sebelum menjadi guru adalah petugas kebersihan.

“Saya bingung juga kemarin setelah lulus sekolah. Mau kuliah tidak ada biaya, mau kerja juga masih bingung kerja apa, akhirnya saya melamar jadi petugas kebersihan. Karena pihak sekolah sudah sangat kenal dengan saya akhirnya dibolehkan kerja di sini,” jelasnya.

Sempat beberapa bulan menjadi petugas kebersihan, Sadikin mendapatkan tawaran dari sekolah untuk diikutkan sebagai penerima beasiswa penuh kuliah di PLB FKIP ULM. “Saat kuliah juga masih bantu-bantu jadi petugas kebersihan, baru setelah lulus kuliah dibolehkan jadi guru,” ujarnya.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help