BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Spirit

Kampanye Jalan Kaki

HAMPIR tak bisa dipercaya seorang Presiden terjebak macet sehingga untuk menuju ke tempat acara harus berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Kampanye Jalan Kaki
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

HAMPIR tak bisa dipercaya seorang Presiden terjebak macet sehingga untuk menuju ke tempat acara harus berjalan kaki sejauh dua kilometer. Tapi itulah yang terjadi saat Presiden Joko Widodo hendak menjadi inspektur upacara HUT ke-72 TNI di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017. Kemacetan tak bisa diurai lagi sehingga Presiden memilih turun dan berjalan kaki diiringi para menteri, ibu-ibu dan sejumlah staf.

Rupanya bukan hanya Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karanvian juga mengalami nasib serupa dan di tengah kemacetan bertemu Presiden. Mereka beringsut-ingsut mencari celah di antara mobil yang sudah tak bergerak.

Yang tidak tahan memilih naik motor yang juga terjebak macet. Ibu-ibu paling sengsara, pakai kain kebaya dan sandal bertumit tinggi harus berjalan begitu jauh.

Yang tak tampak lelah Presiden Jokowi. Dia menikmati, menyambut uluran tangan rakyat yang ingin bersalaman. Ini menjadi pemandangan tersendiri yang belum pernah dirasakan presiden- presiden sebelumnya. Pengawal senantiasa sigap membuka jalan untuk memberi kesempatan mobil presiden dan pengiringnya lewat. Kalau toh tetap macet sudah disediakan helikopter.

Semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan ada surat pembaca yang menyarankan agar SBY dan keluarganya tinggal di istana saja, karena kalau bolak balik ke rumah pribadinya di Cikeas jalanan jadi macet. Bukan SBY yang kena macet tapi rakyat.

Pernah juga terjadi saat Presiden Soeharto mendampingi tamu negara di Yogyakarta tiba-tiba palang pintu kereta ditutup. Petugas melarang tapi penjaga pintu kereta tak mau kalah. Pak Harto dan seluruh rombongan terpaksa berhenti menunggu sebuah loko tua yang terengah-engah melaju dengan berat di depan rombongan tamu negara.

Tak ayal lagi penjaga palang pintu harus berurusan dengan penguasa waktu itu, padahal dia hanya menjalankan tugas. Bisa dibayangkan seandainya pintu tak ditutup. Mestinya ada koordinasi dahulu dengan pihak Kereta Api, tapi panitia tak melakukannya.

Itulah sekelumit kisah Presiden yang terjebak macet. Nggak tahulah bagaimana pak polisi mengatur lalu lintas hingga hal itu terjadi juga pada Presiden Jokowi. Padahal ini upacara kebesaran, Presiden Jokowi memakai jas lengkap, begitu pula para tamunya.

Tapi sebenarnya pemandangan Presiden jalan kaki justru mengangkat citra Jokowi. Andaikan ia ingin mencalonkan diri lagi sebagai Presiden tahun 2019, peristiwa ini bisa menjadi “celengan”. Rakyat akan mengingat kesederhanaan dan keramahannya.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help