BanjarmasinPost/

Berita Tanahlaut

Mahasiswa ULM Ramaikan Aksi Indonesia Clean Up Day di Pantai Tabanio

”Banyak biota laut yang tertipu plastik tersebut adalah makanan, seperti penyu yang mengira ubur-ubur" tambah Ketua BEM FPK ULM, Rizal.

Mahasiswa ULM Ramaikan Aksi Indonesia Clean Up Day di Pantai Tabanio
Istimewa
Dengan semangat, puluhan mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Kelautan ULM bersama masyarakat dan personil tentara Angkatan Laut melaksanakan aksi bersih pantai mengumpulkan sampah di Desa Tabanio Tanah Laut, Minggu (08/10/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Dengan semangat, puluhan mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Kelautan ULM bersama masyarakat dan personil tentara Angkatan Laut melaksanakan aksi bersih pantai mengumpulkan sampah di Desa Tabanio Tanah Laut, Minggu (08/10/2017).

Dengan berbekal kantung sampah dan alat seadanya, mereka memungut sampah di atas pasir dan sekitar bangunan penahan ombak di sepanjang pantai. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari aksi Indonesia Clean Up Day (ICUD) 2017 yang berlangsung serentak di 22 provinsi dengan 140 lokasi clean up yang melibatkan 97.650 ribu relawan.

ICUD adalah sebuah gerakan bersih-bersih secara serentak yang dilaksanakan oleh relawan di seluruh Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2017 jam 07.00 - 09.00 pagi waktu setempat. Komunitas atau organisasi yang berminat menjadi relawan mendaftar melalui situs indorelawan.org dan memilih lokasi atau menghubungi koordinator wilayah.

Baca: Polda Kalsel Gerebek Gudang Zenithdi Jalan A Yani Km 5, Beberapa Pembeli Turut Diamankan

Koordinator ICUD Kalimantan Selatan, Nursalam, mengatakan bahwa Desa Tabanio dipilih karena merupakan desa pesisir. Umumnya wilayah pesisir menjadi pintu utama masuknya sampah ke laut. Indonesia merupakan negara penghasil sampah laut kedua di dunia setelah China, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Sampah plastik yang dibuang ke laut Indonesia mencapai 1,2 juta ton tiap tahunnya.

Sampah saat ini telah menjadi masalah dunia. Sampah plastik yang masuk ke laut mengalami proses pelapukan dan penguraian menjadi pecahan plastik yang dimakan oleh biota laut yang mengira makanannya, lalu mati. Tak semua mati, dalam proses makan memakan, ikan dengan kandungan plastik di tubuhnya dimakan oleh predator yang lebih tinggi hingga akhirnya sampai ke tubuh manusia. Akibatnya, manusia dan keturunannya merasakan dampaknya. Mulai dari suplai makanan biota laut yang berkurang hingga pengaruhnya bagi kesehatan.

”Banyak biota laut yang tertipu plastik tersebut adalah makanan, seperti penyu yang mengira ubur-ubur" tambah Ketua BEM FPK ULM, Rizal.

Ia menambahkan bahwa jika tidak melakukan upaya-upaya pencegahan dari sekarang, maka kedepan anak cucu kita akan sengsara. "Sengsara yang dimaksud yaitu sengsara karena jumlah ikan yang berkurang dan sengsara karena akumulasi plastik di tubuh manusia menyebabkan penyakit yang serius,"sambungnya.

Karenanya, dia mengajak mahasiswa dari himpunan mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa untuk terlibat dalam aksi ini.

Kegiatan ICUD diadakan dalam rangka mendukung World Clean Up pada 15 September 2018 mendatang yang akan diikuti 150 negara dengan melibatkan 35 juta penduduk atau 5 persen populasi di dunia. World Clean Up Day diinisiasi oleh Lets Do It World.

Menurut seorang peneliti lingkungan, Jenna Jambeck, penanganan pencemaran sebaiknya lebih berfokus dalam membersihkan sampah di daratan pemukiman dan sungai daripada mengambil plastik yang sudah mengambang di lautan. Namun yang terpenting adalah perubahan perilaku manusianya. Jika tidak, maka laut tetap menjadi tempat sampah raksasa.

Penulis: Milna Sari
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help