BanjarmasinPost/

Cinta yang Tersisa

Sosiolog klasik, Max Weber, pernah menyatakan bahwa masyarakat modern mengalami disenchantment yakni kehilangan rasa

Cinta yang Tersisa
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Sosiolog klasik, Max Weber, pernah menyatakan bahwa masyarakat modern mengalami disenchantment yakni kehilangan rasa takjub akibat rasionalisasi, birokratisasi dan sekularisasi. Semua ini bermuara dari kepercayaan yang berlebihan bahwa sains adalah satu-satunya penjelasan yang andal tentang hidup dan kehidupan, sementara kepercayaan agama dan doktrin metafisika dianggap omong kosong belaka.

Pendapat Weber itu pernah kami bahas di kelas Prof Arvind Sharma, seorang penganut Hindu yang saleh dan pakar studi agama-agama di McGill University. Menurut Sharma, Weber benar, tetapi ada rasa takjub yang tak pernah punah dalam masyarakat modern. Rasa takjub itu adalah cinta. Serasional dan sesekuler apapun seseorang, cinta tetap membuatnya takjub, terpesona dan mabuk kepayang.

Cinta yang seringkali menjadi topik perbincangan dan pertunjukan adalah cinta romantis, ketika lelaki dan perempuan saling tertarik, saling mengagumi dan berkeinginan untuk menempuh hidup bersama. Untuk cinta semacam ini, jutaan puisi dan syair telah ditulis, lagu-lagu digubah, buku-buku ditulis, dan film-film dibuat. Selama manusia masih ada di muka bumi ini, cerita cinta romantis kiranya takkan pernah sirna.

Orang Yunani menyebut cinta romantis itu eros. Cinta dalam makna eros mencakup dorongan seksual dan sensual. Manusia takjub pada keindahan, baik fisik atau psikis, keindahan luar ataupun dalam. Paras yang cantik dan ganteng, tutur kata yang manis, perilaku yang sopan dan menyenangkan, semua akan menimbulkan rasa takjub. Gayung pun bersambut jika kedua belah pihak sama-sama merasakannya.

Eros mengandung impian-impian manusia tentang keindahan hidup yang kelak ingin dicapainya. Karena itu, menurut filosof Yunani, Plato, eros dapat menjadi kekuatan kreatif bagi manusia. Eros mendorong manusia untuk berkarya. Di sisi lain, kata penulis kontemporer, Paulo Coelho, eros juga bisa melahirkan penderitaan ketika impian-impian tak seindah kenyataan, dan kesetiaan dibalas pengkhianatan.

Selain eros, dalam bahasa Yunani ada philos, yang artinya juga cinta. Misalnya, kata filsafat berasal dari philos dan sophia artinya cinta pada kebijaksanaan. Dalam Kamus Webster, philos berarti sayang (dear) dan bersahabat (friendly). Sederhananya, philos adalah cinta seorang sahabat kepada sahabatnya. Cinta semacam ini bisa terjadi antara anggota keluarga, sesama teman, atau suami istri yang sudah tua.

Jika eros adalah cinta yang penuh gairah karena impian-impian yang terpendam, philos menyadarkan manusia bahwa impian-impian pribadinya harus berdamai dengan kenyataan. Kenyataan itu adalah kekurangan dan keterbatasan diri sendiri dan orang lain. Philos menghadirkan cinta yang saling mengisi dan menguatkan. Karena itulah, tepat sekali bahwa philos bergandeng dengan sophia (kebijaksanaan).

Kata ketiga untuk cinta dalam bahasa Yunani adalah agape. Menurut Webster, agape artinya ternganga karena takjub atau berada dalam keadaan takjub. Agape adalah cinta yang menguasai secara total sehingga tidak ada lagi tersisa rasa benci. Karena orang hanya bisa memberikan apa yang dimiliknya, maka manusia yang dikuasai agape hanya bisa mencintai bahkan terhadap musuh-musuhnya.

Dalam bahasa Arab, paling kurang ada tiga kata penting yang terkait dengan cinta, yaitu mahabbah, mawaddah dan rahmah. Mahabbah adalah cinta yang bergairah. Al-Ghazali mengartikannya sebagai kecenderungan alamiah manusia kepada sesuatu yang menyenangkan. Mawaddah seringkali dianggap sebagai sinonim mahabbah. Tetapi, mawaddah secara khusus juga berarti merasa senang dan intim.

Adapun kata rahmah yang dalam bahasa Indonesia menjadi rahmat, maknanya lebih luas. Rahmat tidak sekadar cinta yang bergairah, tetapi kasih tanpa pamrih. Rahmat seakar dengan kata rahim, tempat bayi diperut ibu merima cinta darinya, lahir dan batin. Alquran menggambarkan Muhammad sebagai rasul pembawa rahmat bagi semesta alam. Karena itu, rahmat tampaknya sejalan dengan makna agape.

Saya kembali teringat dengan Prof Arvind Sharma. Kita patut bersyukur bahwa orang modern-sekuler masih menyimpan rasa takjub dan pesona dalam soal cinta. Namun, saya khawatir, cinta yang tersisa itu lebih banyak berupa eros, ketimbang philos apalagi agape, atau mahabbah dan mawaddah, ketimbang rahmat. Dalam penghayatan kita akan cinta, ada makna terdalam yang cenderung terabaikan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help