BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Setop Menganaktirikan Guru Honorer

Tugas lainnya, membimbing dan melatih peserta didik atau siswa, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat

Setop Menganaktirikan Guru Honorer
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

APA pun labelnya, honorer atau bukan, guru adalah tetap guru. Yang mengemban tugas mulia; mencerdaskan anak bangsa ini. Tanpa ada campur tangan seorang guru mustahil republik ini mempunyai ribuan profesor, ribuan insinyur, ribuan dokter, dan ribuan profesi lainnya.

Betapa penting peran guru ini, negara pun secara khusus memberikan panduan apa saja tugas seorang guru itu. Yakni, merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.

Tugas lainnya, membimbing dan melatih peserta didik atau siswa, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada kegiatan pokok yang sesuai, serta meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan.

Semua tugas itu dijalankan guru tanpa berkeluh kesah. Setiap hari guru memberikan bimbingan kepada murid-muridnya di sekolah. Setiap hari guru mentransformasi ilmu yang dimiliki kepada murid-muridnya. Tak hanya ilmu, perilaku murid juga tidak luput dari perhatian guru.

Dalam kesibukan mengajar, terkadang guru juga harus memenuhi tuntutan masyarakat, khusus para orangtua murid, agar mereka bekerja secara profesional. Celakanya, masyarakat tidak membedakan, apakah guru itu honorer atau bukan. Kalau guru yang sudah berstatus ASN (Aparatur Sipil Negara) tentu akan mudah memenuhi tuntutan masyarakat itu. Karena kesejahteraan mereka sudah terjamin. Setiap bulan mereka pasti menerima gaji dan tunjangan-tunjangan lainnya.

Kalau guru yang masih berstatus honorer, baik di sekolah negeri maupun swasta, tentu tidak mudah memenuhi tuntutan masyarakat itu. Yang maklum saja, kesejahteraan mereka belum terjamin. Uang yang mereka terima setiap bulannya berada dibawah standar, padahal mereka sudah mengabdi belasan sampai puluhan tahun.

Mirisnya lagi, pembayaran uang honor sering terlambat. Ya terpaksa mereka mengutang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Logika sehatnya, bagaimana bisa bekerja secara profesional, sementara mereka diperlakukan tidak profesional.

Seperti yang terjadi di Banjarmasin, Kalsel. Ribuan guru honorer yang mengajar di sekolah menengah atas (SMA/SMK) sudah enam bulan terakhir belum menerima tunjangan tambahan penghasilan yang biasa dialokasikan dari BOS daerah.Akibatnya tidak sedikit guru honorer yang terpaksa ‘ngebon’ alias meminjam kepada sekolah. Biasanya, tunjangan Rp 1 juta itu diterima guru honorer setiap tiga sebulan sekali (Banjarmasin Post, Edisi Senin, 11/10/2017, hal satu).

Nasib guru honorer ini tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kesejahteraan mereka harus ditingkatkan. Gaji atau uang honor yang diterima mereka setiap bulan harus sesuai standar. Tunjungan yang diterima mereka harus diberikan tepat pada waktunya.

Tegasnya, guru honorer jangan dianaktirikan. Pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan mereka. Setop menganaktirikan guru honorer. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help