BanjarmasinPost/

Berita Banjarbaru

Melihat Perajin Rak Bunga dari Ulin, Ini yang Dikerjakan Ian hingga Barangnya Sampai Semarang

Sudah dua tahun terakhir, pria berusia 53 tahun ini menjadi pembuat rak dan pot bunga berbahan ulin. Sebelumnya dia menjadi penambal ban.

Melihat Perajin Rak Bunga dari Ulin, Ini yang Dikerjakan Ian hingga Barangnya Sampai Semarang
dokumen
BPost cetak edisi Kamis (12/10/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dengan hati-hati, Ian memaku kayu ulin yang dirangkainya. Jika tidak hati-hati, kayu keras ini bisa retak. Hasilnya, sebuah rak bunga yang kuat dan tentunya cantik.

Sudah dua tahun terakhir, pria berusia 53 tahun ini menjadi pembuat rak dan pot bunga berbahan ulin. Sebelumnya dia menjadi penambal ban.

Bekerja di kiosnya di Jalan A Yani Kilometer 28 Banjarbaru, Ian dibantu putranya. Mereka melayani melayani para pecinta bunga yang ingin menempatkan tanamannya di rak unik.

Setiap hari, dua hingga tiga rak, dia rangkai. “Kalau kami kecil-kecilan. Dikerjakan berdua saja. Tidak bisa melayani pembelian dalam jumlah banyak,” ujarnya, Selasa (10/10).

Ide membuat rak bunga ini berawal dari melihat pot dari ulin di toko bunga tak jauh dari tempat tinggalnya. Sejak itu, dia mulai mencoba peruntungan pada usaha ini. Apalagi tak banyak orang yang melakukannya.

Biasanya rak bunga didatangkan dari Jawa dengan bahan besi. Namun Ian tak memiliki keterampilan membuatnya. Oleh karena itu dia mencoba membuatnya dari ulin.

Selain sedikit saingan, rak bunga berbahan ulin lebih kuat dari besi. “Kalau besi bisa berkarat, kalau ulin tidak,” ujarnya.

Berbagai bentuk rak dibuat Ian. Semua dipikirkannya sendiri. Ada yang bertingkat dua, ada yang bertingkat tiga.

Selain menjual rak bunga berbahan ulin tanpa pelitur, Ian juga melayani pembelinya yang ingin raknya dipelitur. Keduanya sama-sama terlihat alami.

Biasanya dalam satu hari, Ian dan putranya bisa menjual hingga lima rak. Pembelinya dari berbagai daerah. Itu karena lokasi kiosnya strategis. Selain di Jalan A Yani, juga di dekat Bandara Syamsudin Noor. “Beberapa hari lalu ada pembeli rak yang katanya akan dibawa ke Semarang,” ujarnya kepada BPost sambil terus bekerja.

Namun sayang ulin kini sulit didapatkan. Ian tak bisa mengandalkan satu penjual saja. Dia kerap harus berkeliling Landasan Ulin Selatan untuk mencari ulin. “Kadang mudah dicari, kadang sulit. Berkeliling dulu cari bahannya,” ujarnya.

Sebuah rak dijualnya mulai harga Rp 150 ribu. Ini, ungkap Ian, tergolong murah mengingat harga ulin yang mahal.

“Walau terbilang mahal, ada saja yang laku. Lumayan dibandingkan jadi tukang tambal ban,” ujarnya. (rii)

Mau baca berita Banjarmasin Post? klik DI SINI

Mau baca berita Metro Banjar? klik DI SINI

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help