BanjarmasinPost/

Berita Hulu Sungai Tengah

Nikah Siri Masih Marak di HST, Inilah Penyebabnya, Ada Alasan Poligami?

Juga ada pasangan yang bercerai secara hukum agama, namun secara hukum negara masih berstatus suami istri.

Nikah Siri Masih Marak di HST, Inilah Penyebabnya, Ada Alasan Poligami?
Banjarmasinpost.co.id/hanani
sidang Itsbat Nikah, yang diselenggarakan Pengadilan Agama Barabai, Rabu (12/10/2017) di Pendopo Kabupaten HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Ada beberapa hal mengapa pernikahan siri masih sering terjadi di masyarakat, khususnya di HST. Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) HST, H Ahmad Syatibi menyebutkan antara ra lain karena menikah diusia dini, menikah secara agama dan penikahan dirayakan di masyarakat, tapi enggan mendaftarkan ke KUA.

Juga ada pasangan yang bercerai secara hukum agama, namun secara hukum negara masih berstatus suami istri.

Akibatnya, jika masing-masing-masing ingin menikah lagi, pihak KUA tak bisa mencatatkan pernikahannya, tanpa ada izin istri pertama.'

Baca: Pengadilan Agama Barabai Nikahkan Ulang 60 Pasangan, Rata-rata di Atas 40 Tahun

Termasuk istrinya, juga tak bisa dibuatkan buku nikah, karena bisa diangap poliandri secara hukum negara. Hal itu karena secara administrasi masih terikat sebagai suami istri dengan pasangan sebelumnya.

“Karena ingin cepat nikah, biasanya dalam kasus seperti itu memilih nikah siri,”jelas Syatibi, di sela sidang Itsbat Nikah, yang diselenggarakan Pengadilan Agama Barabai, Rabu (12/10/2017) di Pendopo Kabupaten HST.

Selain itu, jelas dia, ada pula pasangan yang menikah dalam kondisi mendesak, misalnya karena pasangan kerja di luar daerah, hamil diluar nikah, serta menikah di usia dini.

Baca: Ini 7 Jenis Pelat Nomor yang Diincar Polisi, Cepat Ganti!

Sesuai hukum negara, perempuan yang dibolehkan menikah dan dicatatkan di KUA, syaratnya minimal berusia 16 tahun. Sedangkan laki-laki, 19 tahun. “Tapi dalam kondisi tertentu jika ingin menikah di usia dini, bisa mengajukan dispensasi ke Pengadilan Agama. PA nanti yang memutuskan, setelah medengarkan alasannya,” tambah ketua PA Barabai HM Dihan.

Dijelaskan Dihan, sebenarnya tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tak mencatatkan pernikahannya ke KUA, karena di tiap kecamatan, ada kantornya.

Selain itu, juga tak ada biaya yang dikeluarkan, jika calon penganten telah memenuhi persyaratan. “Buku nikah juga secepatnya diserahkan asalkan memenuhi syarat,” ungkap Syatibi.

Sementara itu, Rahimah (31) salah satu pemohon sidang itsbat nikah, dari Desa Abung Surapati, mengaku nikah 2008 lalu. Dia dan suaminya dikaruniai satu anak. Ditanya mengapa tak mencatatkan pernikahannya, Rahimah menyatakan, dulu malas mengurusnya. “Tapi pernikahan kami tak diam-diam, karena dirayakan dengan mengundang masyarakat, kerabat dan keluarga,” katanya.

Penulis: Hanani
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help