BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Kembalikan Fungsi Sungai

Sekarang, geliat gerakan komunitas pegiat sungai di Banjarmasin, di antaranya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia

Kembalikan Fungsi Sungai
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

SULIT rasanya mendapatkan kondisi sungai dan anak-anak sungai di Kota Banjarmasin, sebagaimana di era 1970an. Tempo dulu, sungai tertata indah dan bersih serta menjadi arus lalu lintas transportasi air bagi warga kota beraktivitas, berdagang dan keperluan lain sehari-hari.

Kini, menengok sungai yang ada, airnya kotor, penuh limbah dan sampah. Bahkan yang dulunya sungai dan anak sungai, kini terimpit oleh bangunan rumah dan rumah toko. Harapan kembali menikmati sungai yang bersih, produktif dan lestari sebagaimana dulu, sudah saatnya diperjuangkan.

Sekarang, geliat gerakan komunitas pegiat sungai di Banjarmasin, di antaranya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, mulai bangkit memecah kebuntuan dengan menginisiasi gerakan restorasi sungai. Mereka berupaya ingin menyelamatkan dan mengembalikan fungsi sungai pada kondisi alamiahnya dan bermanfaat semaksimal mungkin bagi kehidupan manusia serta lingkungan secara berkelanjutan.

Dalam waktu dekat, Kota Banjarmasin bakal menjadi tuan rumah Kongres Sungai Indonesia (KSI) III pada 1- 4 November 2017. Kegiatan tersebut akan diikuti pegiat, pencinta, komunitas dan pengambil kebijakan tentang sungai.

Banyak harapan, di antaranya menghasilkan maklumat tentang one river one management yang mengurusi sungai, kutip Ketua Panitia KSI, Syaiful Adhar dan rombongan sebelum bersilaturahmi dengan Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group, HG (P) Rusdi Efendi AR (BPost, 13/7/2017).

Ini jadi momentum penting, berkumpulnya pegiat, pencinta, komunitas dan pengambil kebijakan tentang sungai, sehingga bisa digunakan untuk mengeluarkan maklumat dan usulan pembentukan badan restorasi sungai.

Apalagi, Banjarmasin tetap menjual panorama sungai sebagai andalan kunjungan turis domestik maupun mancanegara. Terlepas dari persoalan kehidupan sungai, terutama warga kota yang tinggal di bantaran sungai, tampaknya tidak berpengaruh terhadap wisata tersebut.

Bahkan, di mana-mana sungai sekarang menyempit. Ironisnya, ada sungai yang hilang. Namun demikian, perhatian Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin menggaungkan sungai sebagai andalan wisata tetap konsisten, yakni Banjarmasin Kota Sungai Terindah.

Secara perlahan, tahapan itu mulai diramaikan pasar terapung di tengah kota, yaitu perdagangan dan transaksi lainnya pada setiap Sabtu-Minggu pagi di Siring Jalan Piere Tendean Banjarmasin. Namun, tidak meninggalkan pasar terapung aslinya di Kuin, Banjarmasin Utara.

Inilah barangkali jualan sungai, memberi kesempatan kepada penyelenggara perjalanan wisata untuk menjual dan mempromosikan sungai, sehingga menjadi daya tarik turis ke Banjarmasin Kota Sungai Terindah ini.

Terlepas dari semua itu, kecenderungan warga membangun dan merenovasi rumah tinggal atau tempat ibadah di bantaran sungai, menjadi pemandangan biasa sekarang. Padahal sebelumnya, sungai dan anak-anak sungai itu mendapat perhatian orang Banjar.

Pelestarian sungai dan pesonanya, lagi-lagi perlu dikembalikan. Demikian pula budaya hidup di kawasan sungai, jangan sampai akibat longgarnya kepemilikan di bantaran sungai, seolah menghalalkan membangun atau memperluas bangunan di sana. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help