Ulin Terakhir

KALAU kita melihat foto utama pada Harian Kompas 13 September 2017 niscaya hati akan kecut. Sebuah tegakan kayu ulin

Ulin Terakhir
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

KALAU kita melihat foto utama pada Harian Kompas 13 September 2017 niscaya hati akan kecut. Sebuah tegakan kayu ulin (eusideroxylon zwageri) berusia 290 tahun dengan diameter 145 sentimeter dicuri oleh pembalak liar. Tegakan ini berada di wilayah konservasi PT Sarmiento Parakantja Timber (Sarpatim) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Ulin itu memang bukan yang tertua. Menurut catatan berbagai sumber, pohon ulin tertua ada di Taman Nasional Kutai (TNK). Pertama kali ditemukan pada 1993 dengan diameter 241 cm, tinggi 20 meter (aslinya 30 meter tapi disambar petir). Kini diameternya 2,47 m, diperkirakan berusia 1.000 tahun dan diakui sebagai yang terbesar di dunia.

Ini dibenarkan oleh seorang peneliti dari Universitas Hasanuddin Makassar. Pertumbuhan tiap tahun 0,5 cm, maka kalau tinggi 30 meter berarti umurnya 1.000 tahun. Tujuh orang baru bisa melingkari ukuran besaran pohonnya. Untuk menuju lokasi TNK dibutuhkan waktu 3-4 jam dari Samarinda. Ini ulin tertua dan terakhir yang diketahui saat ini.

Pembalakan liar di Indonesia bukan sesuatu yang baru. Dulu orang mencuri kayu di hutan memakai kapak, dipikul beramai-ramai. Sekarang menggunakan alat berat yang serbaotomatis. Pelakunya pun tak perlu takut membuat perkemahan di lokasi pembalakan. Persis seperti pemilik HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang bisa leluasa.

Pembalak sekarang sulit dibedakan dengan yang berizin. Mereka membawa gergaji mesin sampai alat berat ke tengah hutan. Rakyat maupun petugas keamanan sudah sangat hafal dengan perilaku mereka. Sayangnya polisi tidak pernah memergoki pembalak sedang beraksi, selalu saja kalau petugas datang mereka sudah menghilang. Jadi tak pernah bisa ditangkap, tinggal sisa-sisa kayunya yang bisa disita.

Lantas polisi mengatakan sudah mengantungi nama pembalaknya. Dari dulu pembalak juga sudah diketahui, tapi cerita pembalak diadili jarang terdengar, kecuali kaki tangannya saja.

Lemahnya penegakan hukum menjadi salah satu alasan makin beraninya orang mencuri kayu. Hukumannya tidak pernah membuat jera, seperti halnya korupsi yang tidak pernah surut karena hukumannya ringan. Padahal merusak hutan itu sama dengan membunuh banyak kehidupan.

Cerita bos pembalak hutan diajukan ke pengadilan memang ada. Masih ingat Adelin Lis? Dia adalah pemilik 268.700 hektare HPH atau hampir separo dari total HPH Sumut 566.451 ha (Martabe News).

Pada 2007 Adelin Lis diajukan ke pengadilan dengan tuduhan melakukan pembalakan liar di kawasan hutan Mandailing Natal (Sumut). Ia dituntut hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar rupiah. Adelin juga diwajibkan mengganti uang pengelolaan sumber daya alam Rp 119,8 miliar dan dana reboisasi Rp 2,9 juta dolar AS. Jaksa menganggap Adelin terbukti bersalah telah menyebabkan rusaknya hutan di Mandailing Natal seluas 58.500 ha.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved