Berita Hulu Sungai Utara

Warga Desa Panyiuran Menamainya 'Rumput Jablai', Ternyata Jadi Musuh Petani

Sebagian lahan pertanian lebak dangkal di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mulai memasuki masa panen.

Warga Desa Panyiuran Menamainya 'Rumput Jablai', Ternyata Jadi Musuh Petani
Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurnia Wati
Seperti di Desa Panyiuran, Kecamatan Amuntai Selatan yang juga mendapat kunjungan dari Bupati HSU Abdul Wahid saat masa panen. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebagian lahan pertanian lebak dangkal di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) mulai memasuki masa panen. Lahan lebak dangkal memang lebih dulu tanam karena air lebih cepat surut menjelang musim kemarau.

Luas lebak dangkal sendiri sekitar 6000 hektare, dan saat ini memasuki masa panen. Seperti di Desa Panyiuran, Kecamatan Amuntai Selatan yang juga mendapat kunjungan dari Bupati HSU Abdul Wahid saat masa panen.

Saat itu, petani mengaku cukup kesulitan menghadapi adanya gulma atau tanaman liar yang tumbuh di lahan lebak dangkal. Gulma tersebut adalah susupan gunung atau warga biasa menyebut dengan "rumput jablai". Karena sulit untuk dan memberantasnya terlebih saat telah bercamput dengan tanaman padi.

Baca: Harga Jual Terong Merosot Jadi Rp 1.000 Per Kilogram, Petani Cuma Bisa Ini

Susupan gunung sendiri memiliki batang keras dan cukup tinggi, akarnya pun cukup dalam. "Sebagian lahan tidak bisa dibuka karena terlalu banyak 'rumput jablai' dan obat untuk membasminya cukup mahal," ujar Amat Anggota Kelompok tani Mawar Desa Panyiuran.

untuk mengatasi gulma tersebut petani harus memberi herbisida dengan harga Rp 70 ribu perliter. Dalam satu hektar lahan pertanian membutuhkan sekitar lima liter herbisida.

"Obatnya cukup mahal, dan tumbuhan ini sangat mudah tumbuh," ujarnya. Jika jumlah gulma ini terlalu banyak petani memilih untuk tidak menanami lahan karena terlalu tinggi biaya untuk pembukaan lahannya.

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help