Berita kabupaten Banjar

Sejarah Hemodialisa RS Ratu Zalecha, Sabhanallah! Ternyata Peninggalan Guru Sekumpul

Selama 4,5 jam, mereka menjalani proses cuci darah. Selanjutnya ranjang diisi pasien lain yang juga rutin melakukan cuci darah.

Sejarah Hemodialisa RS Ratu Zalecha, Sabhanallah! Ternyata Peninggalan Guru Sekumpul
facebook/cerita para wali
Almarhum KH Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejumlah pasien berbaring di ranjang ruang Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura. Di tangan mereka menancap jarum selang darah yang dihubungkan dengan sebuah mesin. Itulah mesin pencuci darah bagi penderita gagal ginjal.

Selama 4,5 jam, mereka menjalani proses cuci darah. Selanjutnya ranjang diisi pasien lain yang juga rutin melakukan cuci darah. Secara keseluruhan ada 16 alat hemodialisa di rumah sakit berakreditasi paripurna tersebut.

Fasilitas ini mendapat perhatian sejumlah ulama Kabupaten Banjar. Dipimpin Guru Muin (89) ulama dari Desa Dalam Pagar Kecamatan Martapura Timur, mereka menyaksikan aktivitas pencucian darah. Pelaksana Tugas Direktur RSUD Ratu Zalecha dr Eko Subiyanto pun menjelaskan cara kerjanya.

Baca: Bagi yang Blank Mau Sarapan Apa? Cobain Resep Telur Panggang yang Lezat

Dalam kesempatan itu, Guru Muin menanyakan peralatan hemodialisa yang pernah digunakan oleh KH Zaini Bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul. Namun ternyata mesin pencuci darah milik Guru Sekumpul sudah tak ada lagi di tempat itu. Eko mengatakan mesin itu sudah tidak berfungsi lagi mengingat usia dan adanya perkembangan teknologi mesin hemodialisa.

“Maaf guru, alatnya sudah tidak ada di ruang ini. Tetapi, tempat tidur Guru Sekumpul masih ada,” kata Eko sambil memperlihatkannya.

Guru Muin pun duduk di ranjang itu. Bahkan beberapa ulama berebah di atasnya untuk merasakan apa yang dijalani Guru Sekumpul.

Baca: Ditegur Allah! Teman Awakarin yang Cantik Ini Memutuskan Hijrah Dari Dunia Malam dan Berhijab

Guru Kaspul mengatakan Guru Sekumpul merupakan pelopor hemodialisa di RSUD Ratu Zalecha. Saat menderita gagal ginjal, Guru Sekumpul membeli dua mesin hemodialisa dan menempatkannya di rumah sakit ini. “Guru membeli dua mesin hemodialisa. Satu untuk beliau dan satu untuk masyarakat,” katanya.

Oleh karena itu Guru Kaspul berharap alat hemodialisa yang memiliki sejarah Guru Sekumpul dijaga dan dipelihara hingga menjadi contoh bagi generasi berikutnya.

Eko akan meminta jajarannya mencari lagi mesin itu untuk dirawat. Eko pun mengakui lahirnya pelayanan hemodialisa di RSUD Ratu Zalecha tidak terlepas dari sosok Guru Sekumpul. Pada 2004, beliau menjalani proses hemodialisa di Surabaya. Oleh karena harus rutin cuci darah dan di RSUD Ratu Zalecha, Guru Sekumpul menempatkan dua mesin di sana.

“Pemikiran Guru Sekumpul saat itu jauh ke depan. Semejak itu, pelayanan hemodialisa di rumah sakit ini berkembang. (wid)

Mau baca berita Banjarmasin Post dan Metro Banjar? klik DI SINI

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved