Catatan Sejarah

Presiden pertama RI Soekarno suatu saat memanggil Menteri Kemaritiman, Mayjen KKO Ali Sadikin. Saat itu Bung Karno meminta

Catatan Sejarah
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

Presiden pertama RI Soekarno suatu saat memanggil Menteri Kemaritiman, Mayjen KKO Ali Sadikin. Saat itu Bung Karno meminta Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebagai bawahan Ali Sadikin menjawab, “Kalau ini perintah saya jalankan.” Bung Karno pun menimpali, “Ini perintah”. Maka jadilah Ali Sadikin Gubernur DKI. Dilantik 28 April 1966 dan berakhir 1977 (dua periode lebih).

Saat itu jabatan Gubernur DKI belum tertata. Masa jabatannya pun hanya satu sampai dua tahun. Yang cukup lama adalah Sudiro (1953-1960), kemudian Sumarno Sosroatmodjo (1960-1964) dan 1965-1966, setelah itu baru ke Ali Sadikin. Wajar pembangunan tidak bisa terlaksana dengan baik karena masa jabatan gubernur amat singkat.

Baru setelah Ali Sadikin Jakarta bisa menjadi kota yang sejajar dengan ibukota negara lain. Dengan berani ia membuka perjudian, hasilnya untuk membangun Jakarta. Ternyata sangat spektakuler, Bang Ali (nama panggilannya) menjadi gubernur yang berani dan cerdas, belum ada yang menyamai.

Paska-Ali Sadikin Gubernur DKI dijabat Tjokropranolo, kemudian Suprapto, Wiyogo Atmodarminto, Suryadi Sudirja dan Sutiyoso. Mereka ini menjabat semasa Soeharto berkuasa jadi tidak melalui pemilihan langsung. Sutiyoso menikmati dua kali masa jabatan (1997-2007), dia sempat dipimpin lima Presiden, yakni Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Mereka semua adalah jenderal, baru dipimpin gubernur sipil setelah Fauzi Bowo memenangkan pemilihan. Tapi dari gubernur ke gubernur tidak ada sesuatu yang menonjol. Karya Ali Sadikin tetap fenomenal, mewarnai ibukota.

Fauzi Bowo lengser setelah dikalahkan mantan Wali Kota Solo, Joko Widodo. Suasana baru mulai terasa, penanganan banjir dimulai. Waduk Pluit yang selamanya dipenuhi penghuni liar, sampah, eceng gondok bahkan sampai dapat julukan tempat jin buang anak, seperti disulap. Dalam waktu singkat menjadi tempat rekreasi yang nyaman. Rehabilitasi sungai yang penuh sampah sampai pembagian Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar tidak lagi menjadi wacana, sehingga banyak yang hampir tidak percaya. Memang sekarang pun belum selesai, persoalan ibukota tak akan ada habisnya.

“Sayang” Jokowi tidak lama karena menjadi Presiden. Wakilnya, Ahok, yang diangkat jadi Gubernur juga tak menghabiskan masa jabatannya. Dia tidak hanya kalah dalam pilkada, tapi juga kalah di pengadilan sebelum masa jabatan selesai sehingga harus meringkuk dalam penjara selama dua tahun karena dituduh menista agama. Wakilnya, Djarot Syaiful Hidayat, meneruskan jabatan Gubernur selama 6 bulan.

***

Kini Jakarta menatap masa depan dengan harapan baru setelah gubernur terpilih Anies Baswedan wan Wakilnya, Sandiaga Uno, dilantik Presiden Joko Widodo Senin (16/10) di Istana. Rakyat menunggu “pertempuran” mereka dalam menggagalkan reklamasi Teluk Jakarta yang menjadi salah satu janji kampanye paling berani setelah janji pemilikan rumah dengan DP nol persen.

Pelantikan Anis/Sandi adalah yang terakhir dari hasil pilkada serentak 2017. Setelah ini akan ada lagi pilkada serentak yang diikuti 171 daerah pada 27 Juni 2018. Rinciannya, 17 propinsi, 39 kota dan 115 kabupaten. Propinsi dengan penduduk terpadat di Indonesia, Jabar, Jateng dan Jatim, ikut dalam pilkada.

Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa pun ikut meramaikan perebutan kursi Gubernur Jatim. Menteri Kelautan dan Perikanan Susy Pujiastuti dielus-elus PDIP untuk maju di Jabar. Mantan Menteri ESDM Sudirman Said dan Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar akan mengadu nasib di Jateng. Siapa tahu garis tangannya sama dengan Anies yang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya negeri ini pada saat kampanye yang akan mengerahkan massa cukup besar. Tentu kita berharap pilkada serentak 2018 ini bisa menjadi ajang pendidikan politik yang baik. Tak perlu mencontoh cara-cara kampanye yang tidak biasa, bernuansa SARA dll yang menimbulkan luka batin dan mengancam persatuan bangsa. Biarlah itu menjadi catatan sejarah bagi anak cucu.(*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved