Kalsel Banjir Mainan Non SNI

Mengejutkan, Petugas Disperindag Temukan 30-40 Persen Mainan di Dua Toko Ini Tak Ber-SNI

Sebagai penjual, dia mengaku produsen telah mengatakan bahwa barang yang mereka jual memiliki SNI.

Mengejutkan, Petugas Disperindag Temukan 30-40 Persen Mainan di Dua Toko Ini Tak Ber-SNI
Harian Banjarmasin Post Edisi Selasa (24/10/2017) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN -  Mainan anak tak berlabel SNI dan berbahasa Indonesia ditemukan dalam pemeriksan yang dilakukan petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel dan Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Banjarmasin di dua toko di Banjarmasin, Senin (23/10).

Salah seorang pemilik toko barang mainan, Sujanto mengakui dirinya mengetahui adanya larangan penjualan barang tak berlogo SNI atau berlabel bahasa Indonesia. Namun sebagai penjual, dia mengaku produsen telah mengatakan bahwa barang yang mereka jual memiliki SNI.

“Kami tahunya itu ada SNI dan terkait label bahasa Indonesia. Kami tidak mengurusi. Kami bicara pada importir kalau tidak ber-SNI, laku atau tidak barang itu maka kami tidak membelinya,” tambahnya.

Ucapan Sujanto spontan ditanggapi petugas Disperindag yang memeriksa setiap mainan tak berlabel SNI yang ditemukan di Panca Baru Toys tersebut. Ada sejumlah mainan tanpa SNI di toko milik Sujanto.

Baca: Kalsel Banjir Mainan Anak-anak Non-SNI, Pemilik Toko Mengaku Dibohongi Produsen

Menurutnya, saat ini pihak Disperindag hanya mengedukasi pelaku usaha. Maksudnya, lanjut dia, jika menemukan barang tidak mencantumkan SNI dan label bahasa Indonesia maka akan ditegur.

“Menyangkut barang tidak mencantumkan label bahasa Indonesia atau tidak ada SNI maka kami tegur. Walaupun ada sekotak mainan di belakang sana yang ada di sini kami lihat maka ini merupakan kesalahan. Intinya wajib label bahasa Indonesia dan ada SNI,” jelas petugas Disperindag itu pada Sujanto.

Ditanya tindakan apa yang akan dia lakukan terhadap distributor, petugas itu mengaku belum menuntut meski tidak sesuai ketentuan. Karena dia menganggap pabrik besar sehingga jika ada tekanan tinggi dia khawatir tidak diberi barang.

Royani, Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Disperindag Kalsel mengatakan, dari dua toko yang diperiksa, 30 hingga 40 persen mainan tidak mencantumkan tulisan SNI dan tidak berlabel bahasa Indonesia.

“Dari dua toko yang kami lihat banyak mainan tidak mencantumkan SNI. Ternyata masih banyak mainan yang tidak ada SNI dan label berbahasa Indonesia,” terangnya.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved