Ekonomi dan Bisnis

Ekspor dan Pertambangan Sokong Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Triwulan II 2017

Nilai ekspor produk tambang mencapai hampir USD 3 miliar, meningkat 33,99 % dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ekspor dan Pertambangan Sokong Pertumbuhan Ekonomi Kalsel Triwulan II 2017
flickr.com
Angkutan batu bara di Sungai Barito 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASINPOST.CO.ID - Ekspor dan pertambangan jadi dua faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan (Kalsel) di Triwulan II tahun 2017.

Dari data Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalsel oleh Bank Indonesia, pertambangan menyumbang dengan peningkatan sebesar 4,91 %, lebih besar dibanding triwulan I 2017 yaitu 4,30 %. Ekspor juga menguat menjadi 30,18 % dibanding triwulan I 2017 yang hanya 22,9 %.

Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya secara umum ekspor Kalsel hingga pertengahan tahun 2017 ini.

Dijelaskan Kepala Seksi Ekspor Impor Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel Nurfuansyah, ekspor produk tambang Kalsel meningkat 5,78 % dengan total volume 63 juta ton lebih.

Dari volume tersebut, nilai ekspor produk tambang mencapai hampir USD 3 miliar, meningkat 33,99 % dibanding periode yang sama tahun lalu.

Baca: Heboh Hantu Mata Merah, Polisi Minta Warga Gang Janda Tak Unggah Keresahan di Media Sosial

Sedangkan dari sisi ekspor, selain produk tambang, produk kelapa sawit, karet alam dan kayu juga alami peningkatan masing masing sebesar 3,2 %, 93,91 % dan 2.17 persen.

“Khususnya ekspor karet cukup meningkat walaupun masih jauh dibanding ekspor produk pertambangan,” kata Nurfuansyah.

Walaupun demikian, secara umum pertumbuhan ekonomi Kalsel di triwulan II 2017 sedikit melabat dibanding triwulan I 2017 sebesar 0,15 % menjadi 5,15 %.

Disamping faktor lainnya, faktor melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalsel di Triwulan II 2017 disebabkan karena melambatnya sektor pertanian hampir separuhnya menjadi 4,35 % dari yang sebelumnya 8,42 %. 

Melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalsel di triwulan II 2017 juga diiringi dengan meningkatnya laju inflasi menjadi 4,20 % dibanding triwulan I 2017 4,02 %. Kembali lagi faktor pendorongnya yaitu harga yang ditetapkan pemerintah (administered price) yang naik menjadi 14,75 % dibanding triwulan sebelumnya 11,32 %. (*)

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved