BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Akhir Drama KTP El

Sejak bergulir pada 2010, sudah lima nama baik dari birokrat, pengusaha hingga anggota DPR yang didudukan di kursi pesakitan.

Akhir Drama KTP El
BPost Cetak
Ilustrasi 

KTP Elektronik (KTP El) dipercaya khalayak sebagai persekongkolan mahabesar mencuri uang negara.. Pasalnya, uang yang diduga dikorupsi sangat banyak yakni Rp 2,3 triliun.

Sejak bergulir pada 2010, sudah lima nama baik dari birokrat, pengusaha hingga anggota DPR yang didudukan di kursi pesakitan. Dua dari birokrat sudah divonis bersalah, satu mantan anggota DPR tinggal menunggu vonis, satu anggota DPR masih dalam proses hukum dan sang pengusaha mulai menjalani sidang. Bayangkan saja, begitu besarnya kasus dugaan pencurian uang rakyat ini hingga dari 2010 baru 5 orang yang terproses hukum.

Indikasi kasus ini bukan kasus biasa adalah banyaknya yang diduga terlibat. Uang yang amankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari mereka yang menerima atau kecipratan proyek KTP El jumlahnya mencapai Rp 250 miliar. Ini merupakan ‘seserahan’ dari 5 korporasi, 1 konsorsium dan 14 orang.

Belum lagi ada 37 nama anggota Komisi II DPR yang disebut di persidangan menerima aliran uang dari proyek KTP El. Malah, mantan menteri dan nama seorang menteri yang bertugas saat ini sempat disebut pula menerima uang. Terlepas dari benar atau tidaknya, namun dugaan keterlibatan anggota DPR dalam kasus ini makin menguatkan ada ketidakberesan di legislatif, begitu pula eksekutif.

Ketika hangat-hangatnya kasus KTP El, tetiba para wakil rakyat yang terhormat menggelar panitia khusus (Pansus) KPK. Wajar saja, jika publik mengaitkan Pansus ini dengan pengusutan kasus KTP El oleh KPK karena waktunya hampir bersamaan. Meski pada akhirnya keputusan Pansus hambar tanpa rekomendasi mengikat untuk KPK, namun Pansus seperti sebuah shock therapy bagi KPK bahwa DPR pun bisa melakukan hal yang ‘menakutkan’ bagi lembaga antirasuah itu.

Di sela Pansus KPK, terjadi beberapa insiden di antaranya penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh pria yang hingga kini tidak dapat ditangkap. Pengungkapan kasus penyiraman ini oleh kepolisian pun kesannya jalan di tempat, dikhawatirkan bakal berlalu, hilang seperti kasus-kasus lain yang tak terpantau.

Pun meninggalnya saksi kunci KTP El Johannes Marliem di Amerika Serikat atau bebasnya Setya Novanto dari status tersangka KTP El karena menang praperadilan, merupakan dinamika dari kasus KTP El ini. Kiranya, sejauh ini, kasus dugaan korupsi yang penuh pernak-pernik, intrik dan kejutan hanya kasus KTP EL ini. Penuh drama, seperti sebuah pertunjukkan yang di-setting oleh sutradara dengan babak dan lakon-lakon tertentu. Kadang pelakonnya seperti menggigit penonton saking menariknya memainkan peran, tapi lain waktu malah membosankan, bikin penonton malas.

Saking lamanya durasi drama ini, bisa saja penonton malas untuk menyaksikan dan memilih pergi atau tak peduli lagi. Jika sudah demikian, sang sutradara memang benar-benar hebat mengaduk-aduk emosi penonton. Sukses membuat tontonan jadi tak menarik dan menjauhkan penonton dari pertunjukan.

Pada kasus KTP El, penonton adalah rakyat, uang mereka lah yang diambil oleh para pelaku terduga korupsi. Karenanya, drama ini harus berakhir baik (happy ending); semua yang terlibat dimasukkan bui.

Uang rakyat sangat besar akan percuma terbuang jika hanya sebagian pelaku yang dihukum. Kasus ini pun jadi preseden bahwa penanganan korupsi di Indonesia bakal sia-sia jika menyangkut nama besar, politisi hingga mereka yang berkuasa. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help