BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Spirit

Dua Zaman

DI zaman milenial ini banyak yang berubah. Internet telah menjadi alat tercanggih dalam melayani kehidupan kita.

Dua Zaman
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

DI zaman milenial ini banyak yang berubah. Internet telah menjadi alat tercanggih dalam melayani kehidupan kita. Yang belum berubah hanyalah sikap mental yang masih mengandalkan pola pikir lama, tidak mau berupaya memperbaiki diri dan hanya mengandalkan kekuatan fisik semata.

Yang paling gampang lihat saja perselsihan antara angkutan berbasis aplikasi dengan angkutan konvensional seperti ojek, taksi dan angkot. Mulai demo menolak angkutan berbasis aplikasi, sampai menghajar sopir taksi daring sudah menjadi pemandangan biasa. Mereka minta pemerintah memfasilitasi agar yang online-online itu dilarang karena mematikan ojek dan taksi konvensional.

Ini persis seperti waktu Presiden Taxi masuk ke Bandung yang seumur-umur hanya mengandalkan taksi liar. Presiden Taxi didemo dan dilarang masuk Bandung. Sekarang setelah ada ojek/taksi online mereka bersatu menentangnya. Intinya, tidak mau ada sesuatu yang baru karena bisa merugikan.

Persaingan itu ternyata juga sudah merembet ke mall. Penjualan ritel di toko-toko konvensional menurun drastis karena kalah dengan penjualan sistem daring. Perusahaan ritel terbesar di tanah air seperti PT Matahari Department Store Tbk, harus menutup tokonya di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M Jakarta. Sedang PT Mitra Adi Perkasa Tbk menutup Toko Lotus Department Store Gedung Djakarta Theater XXI Jakarta Pusat (Kompas.com 28/10/2017).

Hadirnya pelayanan online telah mengubah pola pikir masyarakat yang pada gilirannya mengubah pula cara belanja mereka. Tapi juga jangan semata menyalahkan hadirnya teknologi. Keputusan pemerintah dalam mengambil kebijakan sebelumnya sangat berpengaruh.

Misalnya persaingan angkot dan taksi. Pemerintah tidak berfikir panjang sebelum menggelontorkan izin trayek baru sehingga jumlah angkot menyemut seperti di Bogor yang kini lebih dikenal sebagai ‘kota angkot’. Antarmereka saja sudah bersaing ketat, apalagi setelah hadir taksi online, persaingan makin tak ketulungan dan pendatang baru biasanya menjadi sasaran kekesalan.

Begitu pula toko-toko offline di mall-mall. Dulu pemerintah membuka izin pendirian mall tanpa perhitungan, semua tanah kosong di kota jadi mall. Sekarang baru kena batunya setelah teknologi menyerbu tanpa kompromi.

***

Bukannya yang lama harus disingkirkan tapi mereka harus berusaha mencari solusi menyikapi perkembangan zaman. Misalnya ojek, kendaraan harus baik, pengemudinya tidak main tembak harga dan menjamin keselamatan penumpang. Begitu pula taksi atau angkot, kalau bersih, wangi dan tidak pengap pasti orang suka.

Pemerintah tidak bisa hanya memfasilitasi agar keduanya rukun. Suatu saat jika ada benturan pasti akan ribut lagi. Mana mungkin dua zaman berbeda disatukan. Kalau memang sepeda motor diizinkan untuk angkutan umum harus tegas, gojek dan ojek tradisional yang sering disebut ojek pangkalan dikenakan kewajiban yang sama. Juga taksi daring, jangan mereka narik penumpang tapi tidak dikenakan pajak kendaraan yang sesuai.

Demikian halnya toko-toko ritel dan toko daring. Toko konvensional menghendaki persyaratan yang dikenakan terhadap mereka seperti pajak, penerimaan karyawan dan sertifikat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga diberlakukan untuk daring.

Aktivitas orang sekarang serba dikejar waktu. Semua mau cepat, terukur dan rasional. Pemerintah saja sekarang membuka bandara dan pelabuhan kecil di berbagai tempat mendekatkan dengan konsumen. Dunia usaha termasuk angkutan tak bisa dipisahkan dengan online yang telah menjadi bagian dari perubahan. Padai-pandailah, sekarang ini kita hidup di dua zaman. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help