BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

tajuk

Kebohongan

Boleh saja, Setnov menyatakan ‘tidak benar’ atas sesuatu hal yang tidak baik diarahkan atas dirinya, namun kalau fakta-fakta hakiki

Kebohongan
BPost Cetak
Ilustrasi 

CERDIK. Ya, harus kita katakan, Ketua DPR RI Setya Novanto benar-benar piawai dalam memahami situasi emosional persidangan perkara korupsi proyek E-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, pekan tadi. Setnov –demikian pria yang juga orang nomer satu di Partai Golkar itu akrab disapa – mampu meredam agresivitas hakim mencecar pertanyaan-pertanyaan yang menjebaknya. “Tidak tahu’ dan tidak benar’, menjadi jurus ampuh yang digunakan Setnov meredam hakim.

Dan, seperti kita ketahui, hampir semua pertanyaan hakim yang mengaitkan Setnov dengan perkara korupsi proyek E-KTP, tidak menghasilkan jawaban yang memuaskan. Setnov dengan kecerdikannya selalu mengatakan‘tidak tahu’ atau ‘tidak benar’ bisa menghindari setiap pertanyaan yang memojokkannya.

Kita bisa memahami layaknya proses persidangan, setiap orang yang diperiksa –baik sebagai terdakwa maupun saksi– memiliki hak dasar mengutarakan apa saja yang diketahuinya terkait perkara yang bersinggungan –baik secara langsung maupun tidak langsung– dengannya.

Hanya saja, benar tidaknya apa yang disampaikan seseorang di muka persidangan, tentu bisa melahirkan tafsir yang beragam. Artinya, apakah itu sebuah kebohongan atau sebuah kebenaran, bisa tergambar dari fakta-fakta yang sebenarnya.

Boleh saja, Setnov menyatakan ‘tidak benar’ atas sesuatu hal yang tidak baik diarahkan atas dirinya, namun kalau fakta-fakta hakiki justru membenarkan, tentunya itu menjadi ukuran siapa sebenarnya yang bisa dipercaya.

Kita tahu, berbohong atau berdusta adalah sesuatu yang biasa dalam sebuah persidangan. Karena, memang, acap kali kita menyaksikan kebohongan bisa menjadi alat ampuh seseorang untuk bisa lepas dari jerat hukum. Kalau demikian, bagaimana dengan peran sumpah?

Kalau boleh jujur, secara formal sumpah tidak memberikan makna apa-apa bagi siapa yang mengikrarkannya. Realitasnya, kita hanya melihat sumpah hanya menjadi sebuah seremoni simbolik semata, tanpa makna apa-apa.

Mengapa begitu? Karena kalau saja semua orang mematuhi dan memahami dengan penuh kesadaran diri atas sumpah (jabatan), tentunya tidak akan ada itu tindak kejahatan-kejahatan kerah putih (korupsi) yang melibatkan banyak pejabat di negeri ini. Mereka tidak akan pernah berani bermain-main dengan sumpah sebab di dalamnya mengandung nilai-nilai nilai rohani dari sebuah perjanjian antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hanya saja, faktanya, sumpah yang semestinya menjadi alat ukur kejujuran seseorang kini banyak terdistorsi oleh keduniawian. Seseorang tanpa merasa malu mengurai berbagai kebohongan hanya untuk mencapai tujuan kemuliaan dalam kehidupannya. Dan, ini bisa dilihat dari banyak prilaku individu-individu di negeri ini –yang kalau boleh kita sebut menghalalkan segala cara demi sebuah tujuan hidup.

Nah, kembali ke soal jurus ‘tidak tahu’ dan ‘tidak benar’, tentunya juga tidak bisa dilepaskan kejujuran seorang Setnov dalam memaknai sebuah arti kebenaran. Tentunya sangat disayangkan kalau dua kalimat itu digunakan Setnov hanya untuk menutupi sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan tidak akan pernah bisa langggeng; dan akan terurai dengan sendirinya ketika fakta-fakta menghadirkan sebuah kebenaran. Dan, ketika kobohongan sudah menjadi sebuah kebiasaan, akan semakin sulit kita mendapati sebuah kebenaran yang hakiki dari setiap persoalan kehidupan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help