BanjarmasinPost/

Sungai Impian

Sungai kembali menjadi pusat perhatian di Kota Banjarmasin selama minggu pertama November 2017 ini. Pada 1-4 November 2017,

Sungai Impian
BPost cetak
Mujiburrahman 

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Sungai kembali menjadi pusat perhatian di Kota Banjarmasin selama minggu pertama November 2017 ini. Pada 1-4 November 2017, dilaksanakan Kongres Sungai Indonesia (KSI) ke-3 dan bersamaan pada 2-9 November 2017, digelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-30, tingkat Provinsi Kalimantan Selatan dengan panggung utama di tepi Sungai Martapura , Siring Peirre Tendean Banjarmasin.

Para peserta KSI berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, mulai Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Mereka mendiskusikan berbagai masalah seputar pencemaran sungai dan upaya-upaya pemecahannya. Sedangkan pada pembukaan MTQ, sungai ditampilkan sebagai lokus keindahan warna-warni cahaya lampu di panggung utama serta jalur arak-arakan perahu kafilah dengan aneka lampu hias.

Bagi saya, dua kegiatan tersebut seolah menghadirkan paradoks sikap dan pandangan kita mengenai sungai, yakni antara sungai dalam kenyataan dan impian. Dalam kenyataan, sungai telah dicemari sampah, kotoran manusia, limbah pertambangan, industri dan perkebunan. Dalam impian sungai adalah air jernih mengalir dengan riak-riak berkilau di malam hari memantulkan cahaya rembulan nan romantis.

Dalam sidang Komisi IV KSI yang saya hadiri, telah dipaparkan bahwa masih amat banyak penduduk Kalsel yang tinggal di tepi sungai, mandi, buang air dan mencuci di sungai, sementara airnya sudah sangat kotor. Ini diperparah oleh kebiasaan membuang sampah dan limbah ke sungai. Karena itu, jika kadar bakteri E-coli dalam air maksimal 100, maka kadar terburuk Sungai Martapura mencapai 9000!

Padahal, pada 2007, Pemerintah Kota Banjarmasin telah mengeluarkan Perda Nomor 2 Tahun 2007, yang melarang orang membuat bangunan di atas sempadan sungai, membuang limbah dan sampah, atau mengambil sesuatu dari sungai menggunakan bahan peledak atau kimia yang dapat merusak kehidupan biota di sungai. Namun, penegakan hukum serta kesadaran masyarakat tampaknya masih lemah.

Masalah sungai memang tidak sederhana. Peraturan saja tentu tidak cukup. Kemiskinan dan kebodohan merupakan sebab yang tak kalah penting. Jika mereka miskin, jangankan membuat WC, mencari makan saja sulit.Jika mereka tidak berpendidikan, bagaimana mereka sadar akan bahaya pencemaran sungai? Apalagi, berbagai kebiasaan buruk terhadap sungai itu sudah berlaku turun-temurun beratus tahun.

Dalam masyarakat Banjar yang religius, harapan akhirnya tertuju pada ulama. Mereka perlu didorong untuk mengkampanyekan bahwa meskipun ada ulama yang membolehkan orang buang air di air yang mengalir, tetapi karena jumlah penduduk semakin banyak, maka hukumnya berubah menjadi haram atau minimal makruh. Fatwa iniakan lebih kuat jika didukung oleh penjelasan dari sudut ilmu kesehatan.

Selain itu, sungai sebagai lokus keindahan tidaklah asing dalam tradisi Islam. Di dalam Alquran banyak sekali bertaburan ayat-ayat yang menggambarkan bahwa surga itu di bawahnya mengalir sungai-sungai. Bahkan di surga ada sungai-sungai dari susu dan madu. Susu itu putih bersih dan murni.Madu itu manis dan harum. Alangkah indahnya jika sungai-sungai di bumi menjadi bayangan sungai-sungai di surga!

Menurut Nurcholish Madjid (1994: 92-93), dalam mitologiTimur Tengah dan India, ada kepercayaan bahwa sungai Nil, Gangga dan Amu Darya (Oxus), airnya berasal dari surga. Begitu pula ada kepercayaan bahwa Sungai Furat (Eufrat) dan Dajlah (Tigris) berasal dari SidratulMuntaha, suatu tempat tertinggi dalam kisah Isra Mikraj.Semua ini tentu hanyalah mitologi belaka, namun bukan tanpa arti sama sekali.

Makna utama dari mitologi di atas adalah, kata Nurcholish Madjid, wilayah sepanjang sungai-sungai itu, dari Mesir di barat dan Transoxiana di timur hingga India merupakan buaian peradaban umat manusia. Berkat sungailah kehidupan agraris bertumbuh, lalu berkembang menuju era teknologi industri. Sungai adalah sumber kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan peradaban umat manusia.

Alhasil, jika dulu sungai dalam kenyataan memang menjadi urat nadi peradaban, maka sekarang justru menjadi impian.Akankah impian itu kembali menjadi kenyataan? Jawabnya tergantung pada kita semua!. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help