Hari Pahlawan Nasional 2017- Ini Dua Pahlawan Kalsel yang Diabadikan dalam Uang Kertas Rupiah

Indonesia memiliki banyak pahlawan nasional, di antaranya adalah yang berasal dari Kalimantan Selatan seperti KH Idham Chalid

Hari Pahlawan Nasional 2017- Ini Dua Pahlawan Kalsel yang Diabadikan dalam Uang Kertas Rupiah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Warga menunjukkan uang kertas rupiah baru tahun emisi 2016 usai melakukan penukaran di Blok M Square, Jakarta, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia hari ini resmi meluncurkan sebanyak tujuh uang rupiah kertas dan empat uang rupiah logam tahun emisi 2016 antara lain pecahan Rp100.000 (gambar utama Ir Soekarno dan Moh. Hatta), Rp50.000 (gambar utama Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp20.000 (gambar utama G.S.S.J Ratulangi), Rp10.000 (gambar utama Frans Kaisiepo), Rp5.000 (gambar utama K.H Idham Chalid), Rp 2.000 (gambar utama Mohammad Hoesni Thamrin) dan Rp1.000 (gambar utama Tjut Meutia), pecahan logam, mulai dari Rp 1.000 (gambar utama I Gusti Ketut Pudja), Rp500 (gambar utama Letjend TNI T.B Simatupang), Rp200 (gambar utama Tjiptomangunkusumo) dan Rp100 (gambar utama Herman Johannes). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hari ini, Jumat (10/11/2017) adalah peringatan Hari Pahlawan.

Indonesia memiliki banyak pahlawan nasional, di antaranya adalah yang berasal dari Kalimantan Selatan seperti KH Idham Chalid dan Pangeran Antasari yang wajah mereka diabadikan Pemerintah Indonesia di uang kertas pecahan Rp 5.000 dan Rp 2.000.

Mereka begitu berjasa untuk rakyat Indonesia dan membanggakan warga Kalimantan Selatan.

Supaya lebih kenal lagi dengan dua pahlawan nasional kebanggaan urang Banjar ini, berikut ini adalah sosok mereka.

1. KH Idham Chalid

KH Idham Chalid lahir di Satui, Kabupaten Tanahbumbu, Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921 silam.

Dia merupakan lulusan Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Jawa Timur pada tahun 1943.

Saat itu Indonesia sedang dijajah oleh Jepang.

Tamat dari situ, dia yang masih muda saat itu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta.

Dia fasih berbahasa Jepang sehingga sering kali diminta sebagai penerjemah di berbagai pertemuan.

Idham Chalid
Idham Chalid (Wikipedia)


Selama dalam masa perjuangan tidak hanya aktif berjuang di badan-badan perjuangan, tetapi juga tercatat pernah bergabung di Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan yang dikomandoi oleh murid beliau, Brigjen H Hasan Basry pada tahun 1947 melawan invasi tentara Belanda.

KH Idham Chalid merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) dan pernah menjabat sebagai ketua umum PBNU dengan masa jabatan selama 28 tahun dan dikenal sebagai pimpinan NU dengan masa pengabdian terlama.

Kabarnya, pria bergelar kyai haji ini jugalah yang bisa membawa NU melewati masa-masa pelik sehingga bisa membuat organisasi NU kuat seperti yang kita kenal sekarang.

Baca: Hari Pahlawan 10 November 2017, Presiden Jokowi Beri Nama Pesawat N219, Apa Ya Namanya?

Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang berkarakter kuat dan tidak kaku terhadap perbedaan.

KH Idham Chalid meninggal akibat sakit yang dideritanya di usia 88 tahun pada 11 Juli 2010 di Jakarta.

Dilansir dari Wikipedia, KH Idham Chalid selain pernah menjabat ketua PBNU, juga pernah dipercaya sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat keempat RI dari 28 Oktober 1971 hingga 1 Oktober 1977.

Selain itu juga pernah menjadi Ketua DPR keenam RI masa jabatan 28 Oktober 1971 hingga 1 Oktober 1977, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ketiga RI dari 6 Juni 1968 hingga 28 Maret 1973, Wakil Perdana Menteri Indonesia masa jabatan 24 Maret 1959 hingga 9 April 1957 memimpin bersama Mohamad Roem , dan masih banyak lagi jabatan pentingnya di pemerintahan Indonesia baik di era Presiden Soekarno maupun Soeharto.

Idham Chalid merupakan anak sulung dari lima bersaudara.

Ayahnya, H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Kalimantan Selatan yang berjarak sekitar 200 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Saat usianya enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Halaman
1234
Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help