BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Penyesuaian Diri Pelaku Transportasi

Kata-kata ini kiranya tanpa disadari diterapkan oleh para sopir taksi konvensional di Kalimantan Selatan.

Penyesuaian Diri Pelaku Transportasi
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

BUKAN yang paling kuat yang bisa bertahan hidup, bukan juga yang paling pintar. Yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. Demikianlah kalimat yang diucapkan Charles Robert Darwin, pembuat teori evolusi yang hidup pada abad ke-18.

Kata-kata ini kiranya tanpa disadari diterapkan oleh para sopir taksi konvensional di Kalimantan Selatan. Ada kemajuan signifikan yang mereka lakukan dalam menyelesaikan permasalahan dengan taksi online.

Dalam pertemuan di Gedung Saraba Sanggam, Kamis (9/11), yang difasilitasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kalsel, perwakilan taksi konvensional setuju mereka bergabung dengan taksi online masuk dalam aplikasi.

Ini menunjukkan para sopir taksi Bandara Syamsudin Noor dan taksi argo menerima perubahan zaman akibat perkembangan teknologi internet serta menyadari tuntutan masyarakat terhadap angkutan yang nyaman dan murah.

Tidak ada yang bisa membendung teknologi digital. Banyak biro perjalanan yang tutup karena kalah bersaing dengan aplikasi penjualan tiket pesawat dan pemesanan hotel. Sejumlah toko ritel mulai rontok karena tak mampu bersaing dengan aplikasi jual-beli.

Namun kesadaran para sopir taksi konvensional terhadap arus teknologi siber disertai permintaan agar mobil mereka yang keluaran tahun lama diterima. Manajemen aplikasi taksi online membatasi tahun produksi demi kenyamanan penumpang dan keselamatan. Jika tidak diakomodasi tentu sopir taksi konvensional yang mobilnya lama akan kembali melakukan perlawanan.

Permintaan ini tentunya perlu dipertimbangkan manajemen aplikasi. Dengan demikian keberadaannya diterima di daerah. Ini seperti yang dilakukan salah satu aplikasi dengan perusahaan taksi konvensional. Seiring perjalanan waktu, tentu saja perlu perbaikan kualitas mobil. Jika tidak masyarakat sebagai konsumen akan memperhitungkannya.

Suara konsumen tidak bisa diabaikan. Konsumen hanya akan memilih alat transportasi yang aman, nyaman dan murah. Saat ini saja banyak warga Banjarmasin yang menggunakan ojek dan taksi online untuk bepergian. Aplikasi yang bisa digunakan pun ada beberapa. Jika ada yang pelayanannya kurang baik maka akan ditinggalkan.

Semua memang harus menyesuaikan diri, tak terkecuali pemerintah. Pemerintah pusat harus mengakui terlambat mengatur keberadaan angkutan online. Sebelum masuk Indonesia, jasa ini muncul di luar negeri. Saat muncul di Jakarta, belum juga ditanggapi. Akibatnya terjadi permasalahan. Di Jakarta mulai terselesaikan, permasalahan muncul di daerah.

Ini menunjukkan permasalahan ini tak diselesaikan secara menyeluruh. Di Kalsel mulai terjadi penyesuaian. Tentunya penyesuaian ini harus dikomunikasikan dengan pemerintah pusat dan manajemen aplikasi yang ada di Jakarta. Jika semua pihak menyesuaikan diri maka manfaat aplikasi transportasi ini akan dirasakan seluruh masyarakat. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help