BanjarmasinPost/
Home »

Video

Ekonomi dsan Bisnis

NEWSVIDEO: Harga Eceran Tertinggi Beras Lokal di Kalsel Masih Sulit Diterapkan

Harga eceran tertinggi (HET) beras yang sudah ditetapkan pemerintah melalui Kementrian Perdagangan (Kemendag) masih sulit diterapkan

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Harga eceran tertinggi (HET) beras yang sudah ditetapkan pemerintah melalui Kementrian Perdagangan (Kemendag) masih sulit diterapkan menyeluruh di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Masih cukup banyak pedagang yang menjual beras curah dengan harga diatas HET yang diatur dalam Permendag.

Beberapa pedagang di Pasar Kalindo dan Pasar Sederhana Banjarmasin, khususnya beras lokal Kalsel masih ada yang dijual diluar ketentuan HET.

Baca: OJK Gelar Survei dan FGD, Begini Tujuannya

Dijelaskan seorang pedagang beras di Pasar Sederhana Syarkawi, bahkan ia belum mengetahui secara detil terkait aturan HET beras ini.

"Kalau kami harga beras tergantung hasil panen petani, kalau kualitas beras bagus bisa sampai Rp 11.000 perliter, tapi kalau kurang bagus bisa Rp 10.000 saja perliter," kata Syarkawi.

Terkait masih ada harga beras yang belum sesuai HET di Kalimantan Selatan (Kalsel), Kepala Dinas Perdagangan H Birhasani akui pengkategorian kelas beras untuk beras lokal Kalsel rancu dan sulit diterapkan.

Ia menilai HET beras dapat dengan mudah diterapkan pada produk beras yang diproses atau di produksi oleh pabrikan besar.

Baca: Ini Kendala yang Dihadapi Dinas Perdagangan Terapkan HET Untuk Beras Lokal Kalsel

Namun hal ini berbeda dengan mayoritas produk beras di Kalsel. Sebagian besar produk beras di Kalsel yang di jual di pasar-pasar merupakan beras lokal.

Para pedagang beras tak jarang mendapatkan stok beras dagangannya langsung dari para petani. Para petani tentunya tidak memiliki teknologi, kemampuan untuk memilah dan mengaktegorikan klasifikasi beras produksinya.

Padahal untuk bisa diklasifikasikan sebagai beras kelas medium dan premium, beras harus diukur tingkat kadar airnya, persentase butir pecah dan banyak lagi.

Sortir dan penilaian ini dilakukan menggunakan teknologi mesin khusus, sehingga hanya dapat dilakukan pabrikan besar yang memproduksi beras kemasan.

"Secara umum di Kalsel beras kemasan sudah sesuai dan diberi label, tapi ini tidak bisa untuk beras lokal curah tanpa kemasan yang dijual petani langsung ke pedagang tentu sulit menerapkan ini," kata H Birhasani.

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help