BanjarmasinPost/

Zaman Now

Anak muda memang suka bergaya dalam berbahasa. Salah satu ungkapan mereka yang kini populer adalah zaman now.

Zaman Now
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Anak muda memang suka bergaya dalam berbahasa. Salah satu ungkapan mereka yang kini populer adalah zaman now. Ungkapan ini mengandung dua kata serapan dari bahasa asing: zamân dari bahasa Arab artinya masa, dan now dari bahasa Inggris artinya sekarang. Zaman now sama artinya dengan kekinian, sebuah kata yang sebelumnya juga tak kalah populer.

Namun, yang penting barangkali bukan keunikan perpaduan dua kata asing dalam ungkapan zaman now itu, melainkan pesan dan nilai budaya di belakangnya. Makna zaman now akan tampak lebih jelas jika dihadapkan dengan zaman dulu yang sering disingkat zadul (jadul). Ungkapan terdahulu untuk jadul adalah ketinggalan zaman. Secara tersirat, zaman now dianggap maju, sedangkan jadul dianggap terbelakang.

Hidup memang terus berubah. Perkembangan peradaban umat manusia terus mengalir bersama waktu. Perubahan menuntut penyesuaian diri. Orang yang tenggelam dalam masa lalu akan sulit menjalani hidup di masa kini apalagi di masa depan. Era telepon analog sudah diganti era telepon genggam. Era mesin tik sudah diganti era komputer. Sahabat pena sudah diganti pertemanan di jejaring media sosial.

Bagi para remaja, hidup sesuai zaman now bukan saja agar tidak dianggap ketinggalan, melainkan suatu pernyataan sikap. Dengan itu, mereka seolah mengatakan bahwa politik, budaya dan ekonomi bukanlah lahan monopoli para elit dewasa belaka. Padai zaman now, anak-anak muda sebagai generasi penerus justru harus diikutsertakan. Suara mereka perlu didengarkan, dan harapan mereka perlu diperhatikan.

Di sisi lain, makna tersirat bahwa zaman now itu lebih baik dari zaman dulu, patut dicermati lebih jauh. Mengapa muncul anggapan demikian? Mungkin saja ini akibat propaganda dagang dalam memasarkan aneka barang dan jasa terbaru sebagai yang terbaik untuk dikomsumsi. Orang terus-menerus didorong untuk membeli dan membeli agar tidak ketinggalan jaman dan sesuai dengan gaya hidup zaman now.

Selain itu, benarkah zaman now seratus persen berbeda dengan zaman dulu? Benarkah zaman now itu benar-benar baru tanpa adanya keterkaitan dengan zaman dulu? Tentu saja tidak. Setiap perkembangan baru takkan bisa sepenuhnya terlepas dari masa lalu. Ban tubeless (tanpa ban dalam) tak terbayangkan jika dulu tidak ada ban kayu, lalu ban karet yang buta, kemudian ban dengan ban dalam yang diisi angin.

Namun, contoh ban di atas tidak bisa pula diterapkan sepenuhnya pada tata nilai hidup manusia. Dalam contoh itu, perkembangan terakhir adalah bentuk tercanggih dan terbaik. Di sini ada anggapan tersirat bahwa dunia selalu berkembang ke arah yang lebih baik, seperti teori evolusi yang mengaggap bahwa yang bisa bertahan adalah yang terkuat. Yang hidup di masa kini dan masa depan dianggap yang terbaik.

Padahal, dalam hidup ini, ada yang tetap dan ada yang berubah. Ada banyak perubahan di langit dan bumi, tetapi langit tetaplah langit, dan bumi tetaplah bumi. Ada banyak perubahan dalam kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi manusia sepanjang masa, tetapi manusia sebagai manusia tetaplah sama. Dalam berpikir dan bertindak, manusia tetap harus memilih antara kebaikan dan keburukan.

Bagi kaum beriman, entah di zaman dulu, zaman now ataupun zaman depan, manusia selalu memerlukan pegangan hidup. Hidup tanpa pegangan akan hampa. Hidup tanpa tujuan akan terombang-ambing. Manusia perlu menyadari dari mana ia berasal, apa yang harus dilakukannya di dunia ini, dan kemana kelak dia akan pergi setelah mati. Agama memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Jika pegangan hidup itu telah dihayati, maka orang akan menjalani hidup dengan penuh makna. Apapun yang dilakukannya, jika sesuai dengan tujuan hidupnya, dia merasa bahwa yang dilakukannya itu bernilai dan berharga. Hidup yang bermakna itulah hidup yang bahagia. Waktu bukanlah penentu, melainkan sekadar peluang untuk mewujudkan kebahagiaan itu. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help