Berita Kabupaten Banjar

Uniknya Rumah Banjar Bikinan Orang Yogya di Martapura, Begini Sejarah Awalnya

Meski berukuran lebih kecil dibanding rumah Banjar di Desa Telok Selong, bangunan tersebut memiliki bentuk yang persis.

Uniknya Rumah Banjar Bikinan Orang Yogya di Martapura, Begini Sejarah Awalnya

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak hanya Desa Telok Selong Kecamatan Martapura Barat Kabupaten Banjar yang memiliki rumah adat Banjar. Bangunan yang kerap disebut Bubungan Tinggi itu juga terdapat di permukiman RT 9 Kelurahan Tanjung Rema Darat Kecamatan Martapura Kota.

Meski berukuran lebih kecil dibanding rumah Banjar di Desa Telok Selong, bangunan tersebut memiliki bentuk yang persis.

Nuansa klasik dirasakan BPost saat mengunjungi rumah tersebut. Sebuah sepeda motor Honda tahun 70-an parkir di terasnya. Suasana kampung juga terasa dengan adanya kandang ayam di halaman rumah. Ternak tersebut berkeliaran di sekitar rumah mencari makan.

Baca: Drama Kecelakaan Mobil, Pengacara Sebut Pelipis Setya Novanto Benjol Segede Bakpao

Belum banyak orang yang tahu mengenai keunikan rumah Rahmawati ini. Maklum lokasinya terhalang beberapa bangunan. Apalagi jalan masuknya hanya selebar satu meter.

Menurut Rahmawati, rumah ini karya almarhum suaminya, Toni Wasitono. Menariknya, Toni bukanlah urang Banjar. Dia orang Jawa yang lahir di Yogyakarta.

Baca: NEWS ANALYSIS Prof Mahfud MD: Negara Kita Diakali Setya Novanto

Toni sebenarnya mendirikan rumah Banjar ini di kawasan Jalan Trikora Kelurahan Bangkal Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru pada 1980-an.

“Almarhum suami ada niat, dimana dia merantau, dia akan membangun rumah adat setempat. Prinsip suami saya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ujar Rahmawati.

Di kawasan Trikora, Toni berkebun dan menjadi petambak seorang diri. Dia kemudian menikahi Rahmawati pada 1995. Mereka dikaruniai seorang putra, Arif. “Pada 2003, suami meninggal,” kata Rahmawati.

Baca: Wiranto Sebut Presiden Jokowi Tak Mau Ikut Campur Soal Setya Novanto

Oleh karena jauh dari keramaian, Rahmawati memutuskan pindah ke kampung halamannya. Oleh karena merasa nyaman tinggal di rumah bikinan almarhum suaminya, Rahmawati memutuskan membongkar dan merakitnya kembali di Tanjung Rema Darat. Pekerjaan itu dilakukan ayahnya.

“Semua material dan segala perlengkapan rumah kami bawa ke Tanjung Rema Darat,” cerita Rahmawati.

Untuk menghidupi diri dan buah hatinya, Rahmawati menjadi guru PAUD Kasih Bunda Martapura.

“Saya ingin terus merawat peninggalan suami. Apalagi rumah Banjar ini unik,” ujarnya. (gha)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help