Berita Hulu Sungai Tengah

Bagaimana Ya Gigi Iwak Haruan dan Dayak Jadi Motif Sasirangan Seragam di HST? Ini Penampakannya

Tiap tahun memperingati hari jadi kabupaten, Pemkab membuat seragam dari kain bermotif tradisional khas Kalsel

Bagaimana Ya Gigi Iwak Haruan dan Dayak Jadi Motif Sasirangan Seragam di HST? Ini Penampakannya
hanani
Proses pembuatan kain sasairangan pesanan Pemkab HST, untuk seragam Hari Jadi Kabupaten HST mendatang di Rumah Produksi Anggreak Sasirangan, Mandingin Kecamatan Barabai, HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Pemberdayaan perajin sasirangan lokal dilakukan Pemkab Hulu Sungai Tengah.

Tiap tahun memperingati hari jadi kabupaten, Pemkab membuat seragam dari kain bermotif tradisional khas Kalsel, sasirangan. Untuk tahun 2017 ini, Anggrek Sasirangan, di Desa Mandingin, dipercaya membuat kain untuk seragam tersebut.

Pemilik Anggrek Sasirangan, Masfah kepada BPost Online, mengatakan, dia bersama dua kelompok perajin lain, saat ini sudah menyelesaikan pembuatan sasirangan dengan motif kolaborasi gigi haruan dan motif dayak di pinggir kainnya.

Baca: Hastag International Ini Jadi Trending Topic Dunia, Apa Ya Penyebabnya?

Baca: Lucu! Nama Sasirangannya Padi Lintuk, Tapi Karya Diansyah Sudah Bikin Orang Kangen

Baca: Motif Terinspirasi dari Tumbuhan Ini Antarkan PKK HST Juara Lomba Desain Sasirangan Se-Kalsel

Di tengah kain, terdapat lambang daerah, padi dan kapas, sesuai desain dan warna yang diinginkan Pemkab HST.

Disebutkan, total jumlah pesanan kain, ada 700 lembar, terdiri 500 lembar katun biasa seharga Rp 175 per lembar. Sedangkan 200 lembarnya, kain sutra Rp 250 ribu per lembar.

Proses pembuatan kain sasairangan pesanan Pemkab HST, untuk seragam Hari Jadi Kabupaten HST mendatang di Rumah Produksi Anggreak Sasirangan, Mandingin Kecamatan Barabai, HST.
Proses pembuatan kain sasairangan pesanan Pemkab HST, untuk seragam Hari Jadi Kabupaten HST mendatang di Rumah Produksi Anggreak Sasirangan, Mandingin Kecamatan Barabai, HST. (hanani)

Ditargetkan, akhir Nopember 2017, semua pesanan tersebut sudah selesai. “Sekarang sudah selesai 500 lembar, karena kami kerjakan tiap hari, ”jelas Masfah.

Disebutkan, untuk pewarnaan, pesanan tahun ini tak lagi menggunakan pewarna alami, karena pihak perajin masih kesulitan menyeragamkan warna, jika menggunakan pewarna alami untuk produksi massal.

“Pengalaman tahun lalu, pakai pewarna alami, ada yang warnanya lebih terang, ada yang lebih gelap. Padahal, bahannya sama daun ketapang. JUga komposisinya. Teapi tetap saja ada yang beda,”ungkap Masfah.

Selain itu, menggunakan bahan alami, harganya lebih mahal, mengingat proses pewarnaan yang lebih rumit. Warna yang dihasilkan pun, jelas MAsfah warna-warna alam, seperti cokelat hijau botol.

“KAlau untuk bahan pewarna kimia, warnanya leih terang dan cerah. Hanya orang-orang tertentu yang menyukai warna alami,”jelas Masfah. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved