BanjarmasinPost/

Berita Kotabaru

Dua Desa di Kelumpang Utara Terancam Terisolir, Ini Penyebabnya

Warga terpaksa kembali melalui jembatan Sungai Hanyar untuk akses ke beberapa desa, selain jembatan

Dua Desa di Kelumpang Utara Terancam Terisolir, Ini Penyebabnya
helriansyah
Sebuah mobil truk dipandu saat melintas di atas jembatan Sungai Hanyar, Kecamatan Kelumpang Utara. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Warga Desa Pudi, Pudi Seberang dan warga beberapa desa lainnya di Kecamatan Kelumpang Utara Kotabaru yang bergantu pada akses jembatan Sungai Hanyar, terancam terisolir. Sementara beberapa jalan alternatif tidak biasa dilalui, karena kondisinya yang rusak parah.

Warga terpaksa kembali melalui jembatan Sungai Hanyar untuk akses ke beberapa desa, selain jembatan itu akses terdekat. Tapi akses ini satu-satunya pilihan mereka saat bepergian.

"Memang saat jalan eks perkebunan dan jalan tambang masih bagus warga memilih jalan itu. Sekarang kondisinya rusak parah tidak bisa dilalui, warga kembali melewati jembatan ini," kata Julkifli salah satu tokoh pemudaha di Kecamatan Kelumpang Utara.

Menurut Julkifli, warga kembali menggunakan jembatan untuk akses bepergian. Bukan saja karena kondisi jalan alternatif sekarang tidak bisa dilalui kendaraan. Tapi jembatan merupakan penghubung jalan poros kecamatan yang menghubung beberapa desa di Kelumpang Utara.

Ironis, kondisi kontruksi jembatan sekarang menjadi ancaman keselamatan pengguna yang melintas di sana. Pasalnya, selain kontruksi jembatan dari ulin ambles, tapi juga ada bagian kontruksi yang miring.

Ditambahkan Julkifli, sejak mobilisasi yang kembali lewat di jembatan itu tinggi, warga berinisiatif dan bergotong royong memperbaiki lantai jembatan sempanjang sekitar 12 meter, lebar 4 meter dengan menyusun batang kelapa di atasnya.

"Jadi warga yang bergotong royong, ada menyumbang pohon kelapa ada juga yang menyumbang bahan lainnya. Batang kelapa yang dipasang setelah ditebang di kebun," jelasnya.

Meski demikian, tidak jarang ada kendaraan terpersok saat melintas di jembatan itu. Kecuali mobil jenis truk yang bisa mengangkut batu kegiatan proyek.

"Kalau jenis truk kan mengepaskan ban depan aja. Ban bagian belakang kan dua. Kalau mobil yang lain sering terperosok di sela-selanya. Khawatirnya ada kendaraan yang nyemplung ke sungai," ujarnya.

Julkifli yang juga pengurus salah satu komunitas di Kelumpang Utara ini, menambahkan, warga terpaksa bergotong royong memperbaiki jembatan karena lebih lima tahun tidak tersentuh perbaikan dari pemerintah daerah.

Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan pada Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kotabaru, Juhaini Sukri membenarkan rusaknya kondisi jembatan penghunung Desa Pudi, Pudi Seberang dan beberapa desa lainnya.

Menurut Juhaini, sejauh ini pihaknya masih sebatas melakukan pemeliharaan dengan memasang pohon kelapa yang dilakukan secara swakalola. Dengan harapan bisa dilalui.

Ia beralasan belum bisa melaksanakan peningkatan dengan alasan ketidaktwrsediaan anggaran di 2017. "Sebenarnya sudah dimasukan ke anggaran 2017, tapi tidak tahu kenapa tidak ada," tandasnya.

Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help