Travel

Ternyata Ulama Banjar Pernah jadi Imam Masjid di Pulau Penyengat Tanjung Pinang

Berkunjung ke lokasi Pulau Penyengat harus menyeberang dengan ikut kapal kecil berangkat dari Pelabuhan Tanjung Pinang

Ternyata Ulama Banjar Pernah jadi Imam Masjid di Pulau Penyengat Tanjung Pinang
tribunnews.com
Masjid di Pulau Penyengat 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat berada di Tanjung Pinang, ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau terletak di Pulau Bintan, bagi yang Muslim tentunya prioritas kunjungan wisata adalah ke Pulau Penyengat. Sebab, jika ke Tanjung Pinang tidak berkunjung ke tempat wisata religius juga tempat Budaya Melayu ini, maka belum merasa pernah ke Tanjung Pinang, sunggguhpun ada lokasi wisata tempat orang elite bernama Lagon agak jauh dari lokasi pemerintahan provinsi.

Berkunjung ke lokasi Pulau Penyengat harus menyeberang dengan ikut kapal kecil berangkat dari Pelabuhan Tanjung Pinang yang kini disebut kota lama karena ada pengembangan kota diberi nama kota baru, agak menjauh ke darat setelah terjadi pemekaran wilayah dari Kabupaten menjadi Provinsi.

Memasuki Pulau Penyengat dari jauh sudah disambut pemandangan religius Masjid Sultan Riau yang kini menjadi icon Tanjung Pinang.

Masjid ini nampak terlihat saat kapal penumpang merapat ke dermaga di Pulau Penyengat karena letaknya strategis dan hanya bangunan ini yang besar dibandingkan yang lainnya di pinggiran sungai.

Masjid ini mempunyai warna sangat transparan yaitu dominan kuning dan bergaris hijau dan sedikit garis orange.

Dari pemaparan marbot Masjid atau pemandu wisata, Hambali, masjid ini dibangun dengan perekat putih telur dicampur kapur dan tanah liat.

Riwayat Masjid, dibangun oleh Raja Abdurrahman pada 1832, cucu ari Raja Haji Fisabilillah, kini dapat gelar Pahlawan Nasional Iindonesia asal Riau, yang sekarang nama ini diabadikan juga pada Bandara Udara Internasional di Tanjung Pinang. Bangunan utamanya berukuran 18 x 20 meter dan ditopang empat tiang beton. Begitu naik tangga dan melewati gerbang masjid, di sisi kiri dan kanan terdapat pendopo. Masjid tersebut memiliki 13 kubah yang bentuknya seperti bawang.

Uniknya, jumlah keseluruhan menara dan kubah di masjid ini ada 17 yang melambangkan rakaat shalat lima waktu sehari semalam.

Menurut Marbot Masjid Hambali, luas masjid awalnya tidak besar, karena banyak yang berkunjung bahkan ketika shalat berjamaah tidak maut meampung, maka ditambahlah bangunan agak besar.

Masjid ini menyimpan juga harta tidak tenilai harganya yaitu saat masuk di pintu agak ke dalam ada satu kotak kaca di dalammya Alquran yang tulisannya mudah dilihat, yaitu hasil tulisan Abdurrahman Stambul. Dia sebelumnya dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama Islam. Setelah pulang dia selain menguasai ilmu Islam juga seni kaligrafi gaya Istanbul.

Halaman
123
Penulis: Murjani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help