BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Guru dan PR Kualitas Pendidikan

Termasuk, sudah sejahterakah sosok guru yang hari ini diperingati? Memang, nyaris tak ada lagi didengar guru yang terpaksa menjadi tukang ojek

Guru dan PR Kualitas Pendidikan
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

HARI ini tepat 25 November, kita memperingati jasa-jasa guru yang telah mengajari kita beragam ilmu dan budi pengerti. Moment ini, saatnya merenungi pendidikan di negeri ini. Sudahkah sesuai harapan para pendahulu kita, sudahkah kualitas pendidikan sanggup bersaing di era global, dan bayak lagi pertanyaan-pertanyaan lain.

Termasuk, sudah sejahterakah sosok guru yang hari ini diperingati? Memang, nyaris tak ada lagi didengar guru yang terpaksa menjadi tukang ojek, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gambaran kehidupan guru pun tidak lagi semelarat Oemar Bakrie-nya Iwan Fals. Tentunya ini dalam konteks guru yang berstatus ASN.

Nasib guru honorer lah yang mestinya juga dipikirkan, sekaligus dibuat mekanisme standar agar honorer murni merupakan upaya pengabdian, bukan sekadar batu loncatan menjadi pegawai negeri, yang biasanya diasumsikan sebagai simbol kemapanan.

Guru honorer yang jumlahnya cukup besar, selama ini masih menggantungkan nasibnya pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ironisnya di dalam postur dana BOS dinilai terlalu kecil. Saat ini maksimal 15 persen dana BOS untuk gaji guru honorer. Ini sangat timpang dibanding guru berstatus ASN. Padahal, tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik relatif sama.

Reformasi pendidikan, termasuk memperbesar anggaran pendidikan (APBN dan APBD) minimal 20 persen telah lama berjalan. Saat kebijakan ini diluncurkan, selain sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan guru dan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, ada harapan besar meningkatnya kualitas pendidikan.

Tapi dari sisi kualitas pendidikan, jangankan level dunia, pada level ASEAN pun Indonesia kalah dengan Malaysia yang puluhan tahun silam belajar ke negeri kita mengenai sistem pendidikan. Di tingkat dunia, sebagaimana survei Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) di 2016, Indonesia menempati urutan ke-57 dari total 65 negara. Memprihatinkan.

Bahkan lembaga PBB Unesco memberikan kritikan bahwa kebijakan yang dibuat hanya berhasil dari sisi meningkatkan partisipasi pendidikan di Indonesia, namun mutu pendidikan yang didapat setiap anak, belum setara.

Memang, kualitas pendidikan tidak bisa semata-mata ditimpakan kepada guru. Tapi mesti disadari juga bahwa guru merupakan variabel utama. Kritikan yang muncul bahwa guru lebih mementingkan mutu mereka sendiri, khususnya di ‘era sertifikasi’ daripada keberhasilan para muridnya. Tuntutan dari pemerintah atas sertifikasi tersebut, lebih mendorong guru untuk bermain dengan data-data, dan fokus pada adminitrasi sekolah, dibandingkan dengan kualitas siswa secara keseluruhan.

Jangan sampai guru hanya sekadar penyampai buku dan kurikulum, sementara dalam keseharian lebih banyak disibukkan dengan urusan sertifikasi. Guru sudah selayaknya hadir sebagai sosok pendidik, bukan sekadar pengajar.

Sebuah pekerjaan rumah besar menyangkut masa depan generasi bangsa ini ada di pundak guru, dan tentunya kita bersama untuk membantu.

Akhir kata, selamat Hari Guru. Karena jasa Mu, kami bisa membaca, menulis dan semoga menjadi orang-orang yang berguna. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help