Serambi Ummah

Ketua Bidang Fatwa MUI Kalsel: Mental Qana’ah Bisa Redam Korupsi

Kalau orang korupsi, mengejar tuntutan dan bisikan hawa nafsu (serakah), maka itu sangat tidak disukai Allah. Dalam Islam, korupsi itu sama maling.

Ketua Bidang Fatwa MUI Kalsel: Mental Qana’ah Bisa Redam Korupsi
Serambi Ummah Edisi Jumat (24/11/2017) Halaman A 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KASUS Setia Novanto (Setnov) ini, bisa dijadikan pelajaran bagi semua. Seharusnya seorang pejabat dan pimpinan negara, tidak mencerminkan perilaku menyimpang dalam Islam. Oknum pejabat kini, cenderung korupsi dan ini tidak dibenarkan dalam agama apapun, termasuk Islam.

Menurut Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan, H Abdussamad Sulaiman, orang seperti itu berbuat korupsi dan tidak tergantung mental. Jadi, mentalnya harus diubah dan kecenderungan pendidikan agamanya dangkal.

"Saat ini pejabat bermewah-mewahan, mewah mobil, mewah rumah, sehingga untuk mengejar itu bermacam-macan cara dilakukan. Namun, kalau orang sifatnya qana’ah (mencukupkan apa yang ada, Red), bersyukur apa yang ada, tidak mungkin korupsi itu terjadi," kata dia.

Kalau orang korupsi, mengejar tuntutan dan bisikan hawa nafsu (serakah), maka itu sangat tidak disukai Allah. Dalam Islam, korupsi itu sama maling.

Baca: Umbar Gaya Hidup Mewahnya, Netizen Minta Dirjen Pajak Cek Kekayaan Pengacara Setya Novanto

Ada istilah, koruptor itu adalah maling berdasi dan intelektual. Itu jelas dilarang, siapa sekarang yang membenarkan maling. Kalau maling di rumah-rumah, itu adalah biasa dan kerjanya kasar. Jika koruptor, ini lebih berbahaya.

Di zaman Rasulullah, koruptor itu tidak ada. Namun, Nabi SAW menekankan supaya amal ibadahnya diterima dan doanya diterima. Syarat pertama, makannya harus bersumber dari penghasilan yang halal.

Kalau anak istri diberi nafkah yang haram, doa dan ibadahnya tidak akan diterima. Ya, termasuk yang korupsi itu, jangan harap doanya dimakbul, apalagi mendoakan untuk masuk surga.

Baca: Resmi, Arab Saudi Larang Jemaah Haji dan Umrah Selfie di Masjidil Haram dan Nabawi, Ini Alasannya

Bahkan di zaman Nabi Musa, ada seseorang yang berdoa sampai menangis luar biasa. Namun tetap tidak dikabulkan Allah. Lalu Nabi Musa bertanya kepada Allah, mengapa tidak diterima doanya. Ada suara yang diterima Nabi Musa, menjelaskan hai Musa, engkau tidak mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam perut dan daging orang yang berdoa laki laki tadi.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved