Berita Banjarmasin

Arguci Potensi Ciri Khas Kalsel, Tapi Sayang Bahan Bakunya Didatangkan dari Sini

Kerajinan Arguci sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah produk UKM ciri khas suatu daerah.

Arguci Potensi Ciri Khas Kalsel, Tapi Sayang Bahan Bakunya Didatangkan dari Sini
BANJARMASINPOST.co.id/hasby
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalsel, Gustafa Yandi, menunjukan salah satu produk yang bisa ditetapkan menjadi Ovop, yakni kerajinan arguci. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kerajinan Arguci sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah produk UKM ciri khas suatu daerah.

Hanya saja beberapa bahan dasar dari arguci ini merupakam barang impor.

Perajin kerajinan arguci di Banjarbaru, Niswatun Huda mengatakan, bahan-bahan untuk merangkai kerajinan arguci memang didatangkan dari luar negeri, seperti Jepang dan Singapura.

Jarang ada bahan lokalan, utamanya seperti logam dan emasnya sekarang sudah tidak ada lagi.

“Sebenarnya tidak masalah jika dijadikan one village one product, karena untuk bahan dasar membuat arguci ada saja tersedia. Tinggal perajin memilih jenisnya dan kualitas, kalau lokalan Rp 50 ribuan dan kalau impor dari Jepas rata-rata Rp 200 ribuan,” katanya.

Baca: Setya Novanto Ungkap Keinginan Mundur dari Ketua DPR

Menurutnya, soal bahan dasar arguci tidaklah masalah.

Menjadi kendala selama ini justru pada pemasarannya, kerajinan arguci yang dijadikan tempat tisu atau sejenisnya masih sepi peminat dibanding kain sasirangan.

Kementerian Koperasi dan UKM RI, Asisten Deputi Industri dan Jasa, Victoria Simanungkalit di sela Rapat Koordinasi di Aston Hotel mengatakan, suatu produk jika dijadikan sebagai one village one product sebaiknya utamakan yang bahan dasarnya tersedia di daerah.

Dijelaskannya, yang namanya one village one produck adalah menggerakan masyarakat untuk mengembangkan sebuah produk, mulai dari hulu sampai hilirnya, mulai dari produksi sampai distribusinya.

“Bahan baku utamakan ketersediaannya di daerah setempat, karena jika impor dan ada gejolak apakah tidak mempengaruhi produknya,” katanya.

Dirinya yakin, Kalsel memiliki potensi yang besar, tinggal perlu kejelian menganalisa produk apa yang diminati pasar.

Jangan menjual dalam bentuk komoditi tetapi lebih baik menjual hasil olahan, kemudian disinkronkan dengan kepariwisataan di daerah setempat.

Menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2007 tentang Percepatan Usaha di sektor riil dan pengembangan usaha mikro kecil menengah melalui pendekatan sentra one village one product (Ovop) melalui koperasi. (BANJARMASINPOST.co.id/hasby)

Penulis: Hasby
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved