Home »

Kolom

» Tajuk

Aksi Memalukan Wakil Rakyat

Itulah kenyataannya yang terjadi di DPRD Kota Banjarmasin. Dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi yang menempatkan dua terdakwa

Aksi Memalukan Wakil Rakyat
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

SUDAH terima gaji, tunjangan dan berbagai fasilitas, masak uang Rp 500 ribu dan Rp 1.000.000 juga dipalar. Diterimanya di toilet lagi, habis salat lagi. Iiihhh malu-maluin.

Itulah kenyataannya yang terjadi di DPRD Kota Banjarmasin. Dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi yang menempatkan dua terdakwa Dirut PDAM Bandarmasih Muslih dan Manajer Keuangan PDAM Banjarmasih Trensis, tujuh wakil rakyat yang menjadi saksi mengaku menerima uang dari tersangka korupsi Andi Effendy yang nilainya antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

Anehnya, sepertinya ketujuh anggota wakil rakyat itu merasa tidak bersalah. Mereka masih senang-senang saja menyandang gelar wakil rakyat. Padahal mereka sudah melakukan kesalahan besar. Mengkhianati ribuan rakyat yang sudah memilihnya. Sejatinya, kalau mengaku menerima uang, ya harus mengundurkan diri. Jangan bersembunyi dibalik alasan tidak tahu, sehingga masih merasa berhak menyandang gelar yang terhormat.

Kejadian serupa tapi tidak sama juga terjadi di DPR RI. Ketua DPR Setya Novanto, yang terjerat dugaan kasus korupsi KTP-El, melakukan aksi ‘memalukan’. Negarawan ini menghilang dari rumahnya saat penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan pemanggilan paksa. Drama menghilangnya Setya Novanto ini berakhir di rumah sakit, setelah mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik.

Sebenarnya masih banyak lagi aksi malu-maluin yang dilakukan wakil rakyat di republik ini. Namun dua kasus di atas cukup untuk memancing timbulnya pertanyaan, masih adakah rasa malu atau budaya malu di hati anggota DPR atau DPRD? Wallahu A’lam bishawab.

Untuk rasa malu ini ada baik kita bercermin ke Negara Jepang, dimana penjabat publiknya masih menjunjung tinggi rasa malu atau budaya malu. Mengundurkan diri atau bunuh diri adalah pilihan yang mereka ambil jika terbukti gagal bekerja untuk bangsa dan negara. Nah, ada baiknya wakil rakyat melakukan studi banding ke Jepang, agar tahu tindakan apa yang harus dilakukan kalau gagal (berbuat malu). Minimal mundur dari jabatannya.

Sebenarnya mengundurkan diri bukan barang baru di republik ini. Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng sudah melakukan itu. Dia mengundurkan dari jabatannya setelah Komisi Pemberantasan Korupsi mencekalnya ke luar negeri selama enam bulan dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek Hambalang.

Dalam perpolitikan, rasa malu merupakan aspek yang sangat penting. Ketika rasa malu hilang, maka kepercayaan masyarakat pun sudah tidak adanya. Kalau rakyat tidak percaya, maka sudah tidak pantas lagi mereka berbuat malu bicara mengatasnamakan rakyat. Mereka sudah tidak berhak lagi menerima gaji, tunjang dan fasilitas yang diberikan oleh rakyat. Pantasnya mengundurkan diri saja. Dan kita yakin, pengganti yang lebih bagus pasti ada. Yakni kader yang cerdas, profesional, berintegritas, memiliki ketulusan dan kejujuran.

Wahai wakil rakyat, dijaga dan dipelihara rasa malu atau budaya malu. Jangan sampai berbuat malu, tapi tidak merasa malu. Iiihhh malu-maluin. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help