Kenaikan Harga Elpiji Dorong Inflasi

inflasi di Kota Banjarmasin pada November 2017 antara lain didorong kenaikan harga bahan bakar rumah tangga

Kenaikan Harga Elpiji Dorong Inflasi
BANJARMASIN POST GROUP
Slide yang menunjukkan faktor pendorong inflasi di Kota Banjarmasin yang ditampilkan BPS Kalsel, Senin (4/12/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Naiknya harga gas elpiji 3 kilogram bersubsidi atau elpiji melon di tingkat pengecer, ternyata turut andil menyebabkan inflasi di Kota Banjarmasin pada November 2017. Seperti diketahui elpiji melon semakin sulit didapatkan dan harganya melejit di tingkat pengecer hingga mencapai lebih Rp 25 ribu per tabung.

Padahal pengguna jenis bahan bakar ini sangat banyak, mulai kalangan rumah tangga biasa, usaha kecil menengah (UKM) dan industri rumah tangga lainnya.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalsel dalam keterangan resminya menyebutkan inflasi di Kota Banjarmasin pada November 2017 antara lain didorong kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, yang salah satunya gas elpiji. Pendorong inflasi lainnya di kota bungas antara lain telur ayam ras, ikan gabus, daging ayam ras, dan roti manis.

“Kami belum tahu apakah ini karena stok yang terbatas, atau karena permintaan bertambah. Tapi kenaikan harga bahan bakar rumah tangga menyumbang andil 0,04 persen terhadap inflasi,” kata Kabid Statistis Distribusi Badan Pusat Statistik Kalsel, Fachri Ubaidyah saat menyampaikan berita resmi statistik, Senin (4/12/2017).

Disebutkan pula, menurut komponennya, barang-barang yang harganya dipengaruhi kebijakan pemerintah memang mengalami inflasi cukup besar 0,26 persen di Banjarmasin. Sedangkan volatile goods atau harga bergejolak justru deflasi 0,82 persen, dan komponen inti inflasi 0,22 persen.

Sementara itu, di Kota Tanjung pada November 2017 terjadi inflasi 0,42 persen. Komoditas pendorong inflasi antara lain daging ayam ras, bayam, tomat sayur, bawang merah dan ikan gabus. Kalsel yang merupakan gabungan Kota Banjarmasin dan Kota Tanjung terjadi inflasi 0,08 persen.

Dari kota-kota yang mencatat indek harga konsumen (IHK) di Kalimantan, inflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung, sedangkan terendah di Banjarmasin. Lima kota mengalami deflasi, di mana deflasi tertinggi terjadi di Singkawang 0,36 persen dan terendah di Samarinda 0,12 persen.

Pada November 2017 juga tercatat penurunan daya beli petani. BPS mencatat nilai tukar petani (NTP) pada November 2017 sebesar 96,26 atau turun 0,32 persen dibanding Oktober 2017 yang mencapai 96,56. Penurunan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani atau harga jual produk pertanian mengalami penurunan 0,18 persen. Sedangkan indeks harga yang dibayar petani naik 0,14 persen.

Baca beritanya di Banjarmasin Post edisi Selasa (5/12/2017). (*)

Editor: Anjar Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved