BanjarmasinPost/

Berita Tanahlaut

Misteri Terungkap, Hakim Leo Minta Terdakwa Peragaan Cara Rebut Clurit dari Tangan Korban

Terungkap awal perkelahian berdarah du Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut, akhir Juli 2017 lalu

Misteri Terungkap, Hakim Leo Minta Terdakwa Peragaan Cara Rebut Clurit dari Tangan Korban
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
sidang lanjutan kasus perkelahian duel maut di Pengadilan Negeri Pelaihari, dengan majelis hakim yang diketuai Leo Mampe Hasugian dan dua hakim anggota, Amelia Sukmasari dan Andika Bimantoro, Rabu (6/12/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Misteri pemilik clurit yang digunakan terdakwa Ridho alias Edo melukai korban Rojani alias Jono hingga tewas sebelum mendapatkan perawatan medis sedikit terungkap.

Itu jelas dalam fakta sidang lanjutan kasus perkelahian duel maut di Pengadilan Negeri Pelaihari, dengan majelis hakim yang diketuai Leo Mampe Hasugian dan dua hakim anggota, Amelia Sukmasari dan Andika Bimantoro, Rabu (6/12/2017).

Agenda sidang hari itu adalah mendengar keterangan terdakwa. Ketua majelis hakim yang diketuai Leo Mampe Hasugian mempersilahkan jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Tanahlaut, Albert menanyai terdakwa.

Terungkap awal perkelahian berdarah du Desa Tabanio, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut, akhir Juli 2017 lalu, sekitar pukul 17.00 Wita itu, karena terdakwa dan korban sama-sama tersinggung.

Baca: Inilah 10 Pengusaha Terkaya di Indonesia, Simak Usaha Apa Saja yang Dilakoni Mereka

Terdakwa tersinggung melihat ulah korban mengupal-ngupal gas sepeda motor saat berpapasan dan korban lebih tersinggung karena terdakwa yang putar balik menghampiri korban.

Saat cekcok mulut itu, ayah korban bernama Iyus menghampiri keduanya. Cuma saksi peristiwa bukan melerai cekcok mulut. Justru keterangan terdakwa, saksi memerintahkan korban agar bersiap duel dengan senjata tajam.

Itu diakui terdakwa membuat suasana semakin panas. Senjata tajam jenis clurit di sepeda motor Iyus, jadi rebutan antara terdakwa dan saksi. Cuma berhasil direbut korban.

Clurit itu kemudian ditebaskan korban kearah terdakwa. Cuma tebasan itu hanya mengenai lengan kanan terdakwa. Terdakwa berusaha merebut clurit dari tangan korban dengan sekuat tenaga, clurit berpindah tangan karena lengan korban dipelintir dan dipeluk terdakwa dari depan sehingga tak leluasa mengayunkan cluritnya.

Rupanya keterangan terdakwa itu membuat majelis hakim bingung. Sebab, terdakwa berkomunikasi lebih banyak menggunakan bahasa banjar daripada berbahasa Indonesia.

Halaman
123
Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help