Berita Hulu Sungai Tengah

Di Tempat Ini Satu Jam Membakar, Dua Meter Kubik Limbah Medis Ludes

Alat pembakar sampah dari limbah medis rumah sakit dan klinik-klinik serta puskesmas tersebut, akan menjadi terbesar di Banua Anam.

Di Tempat Ini Satu Jam Membakar, Dua Meter Kubik Limbah Medis Ludes
hanani
Pembangunan Incenerator terpadu berlokasi di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) desa Telang, Kecamatan Batangalai Utara, Hulu Sungai Tengah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Pembangunan Incenerator terpadu berlokasi di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) desa Telang, Kecamatan Batangalai Utara, Hulu Sungai Tengah, oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan, kini hampir selesai.

Alat pembakar sampah dari limbah medis rumah sakit dan klinik-klinik serta puskesmas tersebut, akan menjadi terbesar di Banua Anam.

Sekretaris BPLH HST Muhammad Yani, Minggu (10/12/2017), kepada BPost menjelaskan, kapasitas Incenerator tersebut, mampu membakar dua meterkubik limbah medis perjam.

"Pembangunanya, tinggal bagian atap dan pagar yang belum selesai. Kami bekerjasama dengan PT Timdis dari Surabaya sebagai pihak yang memfasilitasi pengembangan sumber daya manusia, dari sisi operator,"jelas Yani.

Untuk operator, pihaknya melatih tiga orang dari Dinas LH, satu orang dari rumah sakit bekerjasama dengan perusahaan tersebut.

Dengan demikian, masalah limbah medis fokus dikelola Dinas LH, sedangkan pihak rumah sakit hanya fokus pelayanan kesehatan masyarakat.

Dijelaskan, relokasi unit pengelolaan limbah medis rumah sakit Rs Damanhuri Barabai ke TPA Telang, merupakan program terpadu dengan pengelolaan sampah rumah tangga, yang pada 2018 mendatang ditargetkan mampu memproduksi gas metan dari kompos. Bahan bakar gas metan dari sampah tersebut, diharapkan mensupport operasional Incenerator yang memerlukan bahan bakar.

"Jadi tak tergantung listrik, atau BBM," tambah Yani.

Adapun investasi alat tersebut, senilai Rp 2 miliar, bantuan Kemenkes. Sedangkan biaya relokasi dianggarkan dari ABPD HST. Disebutkan, relokasi pembakaran limbah medis dari rumah sakit ke TPA, juga harus dilakukan, karena penempatannya di rumah sakit tak memenuhi syarat, mengingat lokasi rumah sakit berdekatan dengan rumah penduduk.

"Cerobong asapnya di lantai 3, jika sedang dilakukan pembakaran, akan tercium penduduk sekitar. Apalagi sampah yang dibakar limbah medis, baik berupa cairan maupun padat. Selain itu, tentu mengeluarkan bau tak mengenakkan,"tambahnya.

Mengenai limbah medis dari puskesmas-puskesmas se HST, menurut Yani selama ini kapasitas Incenerator RS memang belum mencukupi untuk membakar tiap hari, mengingat ada sekitar 200 kilogram per hari, disimpan dan di masukkan ke sanitariland fill.

Sedangkan limbah yang langsung diproses di rumah sakit selama ini, seperti jarum suntik serta limbah infus yang sudah steril, kemudian dicacah ke mesin pencacah. Pihaknya yakin, Incenerator baru nanti, tak hanya mampu melayani pengelolaan sampah medis rumah sakit. Tapi juga seluruh puskesmas dan klinik swasta.

"Untuk klinik swasta, sudah ada yang pendekatan untuk kerjasama, yaitu klinik di Haruyan," katanya. (hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved